Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Harga Emas Melonjak Setelah Tarif Impor AS, Investor Cari Aset Aman

Bisnis
Ekonomi Makro
News Publisher
03 Apr 2025
121 dibaca
1 menit
Harga Emas Melonjak Setelah Tarif Impor AS, Investor Cari Aset Aman

AI summary

Kenaikan harga emas dipicu oleh ketidakpastian ekonomi dan pengumuman tarif impor.
Pembelian emas oleh bank sentral dan aliran investasi ke ETF berkontribusi pada kenaikan harga.
Tarif impor dapat mempengaruhi pasar global dan menyebabkan penurunan harga logam mulia lainnya seperti perak.
Harga emas mengalami penurunan setelah mencapai rekor tertinggi baru, yaitu $3,167.57, setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai tarif impor yang tinggi. Harga emas spot turun 0,5% menjadi $3,119.09, sementara kontrak berjangka emas AS turun 0,9% menjadi $3,138. Kenaikan harga emas ini didorong oleh ketidakpastian ekonomi dan politik, pembelian besar oleh bank sentral, serta meningkatnya investasi dalam dana yang didukung emas.Menurut Adrian Ash, seorang analis, kondisi ekonomi yang suram dan ketidakpastian geopolitik menciptakan peluang bagi harga emas untuk terus naik. Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 10% pada sebagian besar barang impor ke AS, yang membuat pasar global khawatir akan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi.Sementara itu, harga perak turun 4,4% menjadi $32,54, yang merupakan level terendah sejak Maret. Penurunan ini disebabkan oleh kekhawatiran akan permintaan perak setelah tarif minimum 10% diterapkan pada negara-negara yang mengimpor semikonduktor, di mana perak banyak digunakan. Harga platinum dan paladium juga mengalami penurunan.

Experts Analysis

Adrian Ash
Proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi yang suram dan ketidakpercayaan geopolitik akan terus mendorong harga emas ke atas adalah penilaian yang sangat tepat dan realistis.
Editorial Note
Penerapan tarif impor oleh pemerintah AS memberikan sentimen positif bagi harga emas sebagai aset safe haven, meskipun ada koreksi jangka pendek akibat profit-taking. Namun, kebijakan seperti ini juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menciptakan volatilitas pasar yang lebih tinggi.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.