Emas Pecahkan Rekor Karena Ketegangan Tarif dan Data Inflasi Lemah di AS
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
14 Mar 2025
162 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
Kebijakan tarif agresif Trump mempengaruhi pasar keuangan dan harga emas.
Laporan inflasi yang stagnan dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih longgar.
Proyeksi harga emas menunjukkan potensi kenaikan yang signifikan di masa depan.
Harga emas mencapai rekor tertinggi baru, yaitu Rp 49.92 juta ($2,989) .98 per ons, karena kebijakan tarif agresif Presiden Donald Trump dan laporan inflasi yang lemah menimbulkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi AS. Data menunjukkan inflasi grosir stagnan, yang mendukung kemungkinan kebijakan moneter yang lebih longgar. Ketika biaya pinjaman lebih rendah, emas menjadi lebih menarik bagi investor karena tidak membayar bunga. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, dan banyak investor beralih ke obligasi sebagai aset yang lebih aman setelah pasar saham mengalami penurunan signifikan.
Bank-bank semakin yakin bahwa kebijakan perdagangan Trump yang mengganggu, bersama dengan kekhawatiran lainnya, akan mendorong harga emas lebih tinggi. Beberapa bank, seperti Macquarie Group dan BNP Paribas, bahkan memprediksi harga emas bisa mencapai Rp 58.45 juta ($3,500) per ons dalam waktu dekat. Sementara itu, harga perak dan logam lainnya seperti platinum dan paladium tetap stabil.
Analisis Ahli
Macquarie Group
Melihat lonjakan harga emas ke $3,500 pada kuartal kedua sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi dan kebijakan longgar AS.BNP Paribas
Proyeksi harga emas rata-rata berada di atas $3,000 karena investor mengalihkan aset ke safe haven akibat kebijakan perdagangan yang disruptif.