Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Rupiah Melemah Tipis Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Data Ekonomi AS Lesu

Bisnis
Ekonomi Makro
News Publisher
21 Mar 2025
160 dibaca
1 menit
Rupiah Melemah Tipis Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Data Ekonomi AS Lesu

AI summary

Nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.
Ketegangan geopolitik dan kondisi ekonomi AS berkontribusi pada pelemahan rupiah.
Data peredaran uang M2 menjadi indikator penting bagi pelaku pasar menjelang bulan Ramadhan.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah sedikit pada awal perdagangan hari ini, Jumat (21/3/2025), menjadi Rp16.485 per US$1. Sebelumnya, rupiah sempat menguat pada hari Kamis (20/3/2025) di posisi Rp16.470 per US$1 setelah mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut. Pelemahan ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, serta kondisi ekonomi AS yang kurang baik.Di AS, Bank Sentral (The Fed) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 1,7% dari sebelumnya 2,1%. Selain itu, jumlah klaim pengangguran di AS juga meningkat, meskipun pasar tenaga kerja masih dianggap kuat. Di Indonesia, pelaku pasar menunggu data peredaran uang yang diperkirakan akan meningkat menjelang bulan Ramadhan. Pada Januari 2025, peredaran uang M2 tercatat tumbuh 5,9% dibandingkan tahun lalu.

Experts Analysis

Economist Senior Bank Indonesia
Faktor geopolitik dan ekonomi global tetap menjadi risiko utama bagi stabilitas nilai tukar, sehingga BI perlu menjaga fleksibilitas kebijakan untuk menjaga daya saing rupiah.
Analyst Pasar Modal
Investasi asing cenderung berhati-hati dengan kondisi seperti ini sehingga volatilitas rupiah kemungkinan akan meningkat hingga ada kepastian geopolitik dan data ekonomi yang membaik.
Editorial Note
Ketidakstabilan geopolitik dan melambatnya ekonomi AS secara simultan menciptakan tekanan berkelanjutan pada rupiah, yang membuat kebijakan moneter Bank Indonesia harus sangat waspada. Meski ada peningkatan likuiditas domestik, faktor eksternal masih dominan sehingga penguatan rupiah sulit dipertahankan jangka pendek.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.