Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Impor Serealia Indonesia Nol, Beras dan Gandum Jadi Fokus Utama Pemerintah

Finansial
Kebijakan Fiskal
News Publisher
19 Mar 2025
146 dibaca
1 menit
Impor Serealia Indonesia Nol, Beras dan Gandum Jadi Fokus Utama Pemerintah

AI summary

Impor serealia Indonesia mengalami penurunan drastis, terutama beras dan gandum.
Larangan impor beras oleh pemerintah berkontribusi pada nihilnya angka impor.
Data dari BPS menunjukkan perubahan signifikan dalam pola impor komoditas pangan.
Impor barang serealia di Indonesia, seperti beras, jagung, dan gandum, mengalami penurunan drastis hingga mencapai nol pada Februari 2025. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor serealia turun 99,96% dibandingkan bulan sebelumnya, dan ini disebabkan oleh larangan impor beras yang diberlakukan pemerintah. Meskipun ada sedikit impor beras khusus dan jagung untuk pakan ternak, jumlahnya sangat kecil sehingga terlihat hampir tidak ada.Beberapa jenis beras yang tidak lagi diimpor termasuk beras basmati dan beras ketan. Impor gandum juga menurun tajam, dengan biji gandum turun dari 629,55 ribu ton menjadi hanya 1,02 ribu ton. Sementara itu, impor jagung juga mengalami penurunan, terutama popcorn dan biji jagung, meskipun ada sedikit peningkatan untuk jenis jagung lainnya.

Experts Analysis

Dr. Ir. Satyawan Santoso (Ahli Pertanian)
Mengurangi impor beras bisa meningkatkan permintaan beras lokal sehingga petani mendapat insentif lebih besar, tetapi perlu dukungan teknologi dan infrastruktur agar hasil produksi bisa memenuhi kebutuhan nasional tanpa disparitas harga.
Prof. Bambang Purwanto (Ekonom Pangan)
Kebijakan tanpa strategi penguatan produksi berisiko mengganggu stabilitas pasar pangan, sehingga harus diiringi program peningkatan produktivitas dan diversifikasi pangan agar ketahanan pangan terjaga.
Editorial Note
Kebijakan larangan impor beras oleh pemerintah memang memperkuat kemandirian pangan nasional, tetapi harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi dalam negeri agar tidak menimbulkan kelangkaan atau inflasi harga pangan. Transparansi data impor dan pemantauan ketat sangat diperlukan agar keputusan ini tidak merugikan konsumen akhir dalam jangka panjang.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.