Impor Barang Konsumsi Merosot Tajam, Daya Beli Masyarakat Ambruk Jelang Lebaran 2025
Bisnis
Ekonomi Makro
17 Mar 2025
221 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penurunan impor barang konsumsi menunjukkan rendahnya daya beli masyarakat Indonesia.
Kondisi deflasi bahan makanan mencerminkan minimnya permintaan di dalam negeri.
PHK yang terus menerus terjadi berkontribusi pada penurunan pendapatan riil masyarakat.
Pada Februari 2025, volume impor barang konsumsi di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan menjelang Ramadan dan Lebaran. Total impor hanya mencapai US$ 1,47 miliar, turun 10,61% dibanding Januari 2025 dan 21,05% dibanding Februari 2024. Ekonom Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa penurunan ini menunjukkan daya beli masyarakat yang sangat rendah, sehingga permintaan barang di dalam negeri juga menurun. Hal ini menyebabkan harga barang, terutama makanan, turun karena tidak ada kebutuhan untuk impor.
Ekonom lainnya, Esther Sri Astuti, juga menyoroti bahwa penurunan impor ini mencerminkan masalah daya beli masyarakat yang disebabkan oleh penurunan pendapatan dan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor. Ia menyarankan pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah ekonomi yang lebih baik agar pertumbuhan ekonomi tidak terus menurun. Beberapa barang konsumsi yang mengalami penurunan impor signifikan antara lain buah-buahan, daging, dan serealia.
Analisis Ahli
Bhima Yudhistira
Daya beli masyarakat sangat rendah sehingga permintaan impor turun secara drastis menjelang Lebaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya.Esther Sri Astuti
PHK masif dan kenaikan harga pangan melemahkan daya beli masyarakat, perlu kebijakan ekonomi ekspansif agar pertumbuhan ekonomi tidak turun.


