Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Yield Obligasi Jepang Diprediksi Capai 2% Tahun Ini, Bersaing dengan China

Bisnis
Ekonomi Makro
News Publisher
07 Mar 2025
129 dibaca
1 menit
Yield Obligasi Jepang Diprediksi Capai 2% Tahun Ini, Bersaing dengan China

AI summary

Suku bunga obligasi Jepang diperkirakan akan mendekati 2% pada akhir tahun ini.
Kondisi ekonomi China yang lemah menyebabkan suku bunga obligasi mereka turun ke level terendah.
Investor Jepang mungkin perlu menyesuaikan strategi mereka seiring dengan perubahan suku bunga obligasi.
Investor Jepang memperkirakan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun akan naik hingga 2% tahun ini. Ini adalah perubahan besar bagi pasar Jepang yang sebelumnya dikenal dengan suku bunga negatif. Kenaikan ini dipicu oleh tren global dan kemungkinan kenaikan suku bunga dari Bank of Japan. Jika imbal hasil mencapai 2%, obligasi China akan menjadi yang terendah di antara pasar besar lainnya, karena imbal hasilnya saat ini sekitar 1,7%.Para analis percaya bahwa pertumbuhan ekonomi yang ambisius di China akan mendorong stimulus moneter, yang dapat menurunkan imbal hasil lebih lanjut. Di Jepang, ada kekhawatiran bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah, terutama untuk pertahanan, dapat menyebabkan lebih banyak obligasi diterbitkan, yang pada gilirannya akan meningkatkan imbal hasil. Para trader juga mulai mengubah posisi mereka untuk bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan imbal hasil obligasi.

Experts Analysis

Masayuki Koguchi
Yields jangka panjang Jepang akan mencapai hampir 2% berdasarkan tren inflasi dan pertumbuhan nominal serta respons pasar terhadap perubahan kebijakan moneter global.
Hiroshi Namioka
Tidak mengherankan jika yields jangka panjang naik ke 1,8% tahun ini dengan melihat kurva imbal hasil obligasi dan kondisi ekonomi Jepang.
Ryutaro Kimura
Ekspansi fiskal, khususnya peningkatan belanja pertahanan, akan memaksa Jepang menerbitkan lebih banyak obligasi sehingga mendorong kenaikan yield.
Editorial Note
Kenaikan yield obligasi Jepang ini menandakan perubahan besar dalam lanskap keuangan negara yang selama ini akrab dengan suku bunga rendah dan deflasi. Jika pemerintah tidak hati-hati dalam mengelola fiskal dan penerbitan obligasi baru, risiko ketidakstabilan pasar bisa meningkat, meskipun hal ini juga membuka peluang besar bagi investor yang lebih agresif.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.