Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Harga Besi Ore Turun Akibat Ketegangan AS-Tiongkok dengan Data Manufaktur Tiongkok yang Optimis

Bisnis
Ekonomi Makro
News Publisher
03 Mar 2025
135 dibaca
1 menit
Harga Besi Ore Turun Akibat Ketegangan AS-Tiongkok dengan Data Manufaktur Tiongkok yang Optimis

AI summary

Ketegangan perdagangan antara AS dan Cina mempengaruhi harga besi secara signifikan.
Data manufaktur yang positif di Cina menunjukkan adanya pemulihan ekonomi meskipun ada tantangan.
Tarif baja AS dapat berdampak besar pada sektor baja Cina dan perdagangan global.
Futures bijih besi mengalami penurunan untuk sesi keenam berturut-turut pada hari Senin, di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China, yang merupakan konsumen utama. Kontrak bijih besi Mei di Bursa Komoditas Dalian (DCE) turun 0,75% menjadi 796 yuan per ton. Meskipun harga bijih besi menurun, data manufaktur China yang positif membantu mengurangi penurunan tersebut. Aktivitas pabrik di China tumbuh lebih cepat pada bulan Februari, didorong oleh permintaan yang lebih kuat dan peningkatan pesanan ekspor.Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa Meksiko telah mengusulkan untuk mencocokkan tarif AS terhadap China setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif tambahan pada impor dari China. Tarif baja dan aluminium yang baru dapat mengganggu sektor baja China yang sedang berjuang. Namun, harga bahan baku lain seperti batubara kokas dan kokas justru mengalami kenaikan, dan harga baja di Bursa Berjangka Shanghai juga meningkat.

Experts Analysis

James Smith, Analis Komoditas Global
Ketegangan perdagangan memang menjadi pemicu utama volatilitas harga besi ore saat ini, namun fokus Tiongkok pada stimulus ekonomi dapat menyeimbangkan kembali pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Editorial Note
Penurunan harga besi ore yang berlangsung lama ini menunjukkan betapa besar dampak geopolitik terhadap pasar komoditas global. Meski begitu, data manufaktur Tiongkok yang positif memberi sinyal bahwa perekonomian terbesar kedua dunia masih memiliki potensi recovery yang bisa mengurangi dampak negatif tarif impor dari AS.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.