DeepSeek, sebuah startup AI dari China, baru-baru ini meluncurkan model R1 yang menarik perhatian banyak orang. Model ini terbukti memiliki fungsi dan akurasi yang baik meskipun menggunakan sumber daya dan daya komputasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan model-model dari Amerika Serikat. Namun, keberhasilan DeepSeek ini berdampak negatif bagi Nvidia, perusahaan besar yang memproduksi chip. Saham Nvidia turun hampir 17% setelah peluncuran R1, mengakibatkan kerugian hampir $600 miliar dari nilai pasar mereka.Peluncuran model R1 menunjukkan bahwa model AI yang canggih tidak selalu memerlukan chip atau perangkat keras yang mahal, yang menjadi masalah bagi Nvidia sebagai produsen chip. Selain itu, situasi ini terjadi setelah mantan presiden Joe Biden menandatangani perintah eksekutif yang membatasi ekspor chip AI canggih ke negara-negara tertentu, termasuk China. Dengan semua perkembangan ini, tampak bahwa untuk mempertahankan dominasi di pasar AI global, Amerika Serikat perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar chip dan perangkat keras AI.
DeepSeek membuktikan bahwa inovasi AI bisa muncul dari pendekatan yang lebih hemat sumber daya, mengguncang dominasi Nvidia dalam pasar chip AI. Ini menandai pergeseran paradigma di industri AI yang selama ini terlalu fokus pada hardware mahal, membuka peluang bagi pemain baru yang lebih gesit dan efisien.