TLDR
Keamanan kini menjadi bagian penting dalam keputusan bisnis, bukan hanya sebagai fungsi teknis. Penggunaan AI dapat mempercepat deteksi dan respon keamanan, tetapi harus dilakukan dengan pertimbangan biaya dan manfaat operasional. CISO perlu membangun hubungan yang kuat dengan dewan untuk membahas risiko dan hasil, bukan hanya fokus pada kontrol teknis. Pomodo.id - Di era yang semakin mengandalkan teknologi, peran Chief Information Security Officer (CISO) menjadi sangat penting dalam mengamankan bisnis, terutama dengan masuknya regulasi baru yang ketat. Sebagai contoh, Bernard Brantley, CISO di Corelight, menyoroti bahwa keamanan kini bukan lagi sekadar tanda centang di dokumen, melainkan kebutuhan bisnis yang harus dipenuhi. Baru-baru ini, pertanyaan yang diajukan kepada timnya beralih menjadi lebih tajam dan relevan dengan penggunaan AI: bagaimana teknologi ini digunakan untuk mempercepat deteksi dan respons terhadap serangan siber.Penting untuk dicatat bahwa perkembangan regulasi seperti FedRAMP di Amerika Serikat mengharuskan perusahaan untuk mematuhi standard yang ketat demi keamanan informasi. FedRAMP menuntut adanya dukungan 24/7 dan mempekerjakan pegawai yang berada di dalam negeri untuk memberikan layanan yang aman. Selain itu, pada bulan Juni 2026, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) mengeluarkan directive operational Binding Operational Directive 26-04 yang memberikan waktu hanya 72 jam untuk merespons kerentanan yang sangat berbahaya. Ini lebih dari sekadar batas waktu; ini adalah panggilan untuk beraksi yang langsung berdampak pada penyedia layanan dan vendor.
Chief Information Security Officer (CISO) adalah seorang eksekutif senior yang bertanggung jawab atas keamanan informasi dalam organisasi. Peran CISO berkembang dari tanggung jawab yang sangat teknis menjadi bagian integral dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk kolaborasi dengan departemen lain dalam menyusun rencana keamanan yang inklusif, berkelanjutan, dan secara efektif menanggapi ancaman yang terus berkembang. Pendekatan yang lebih proaktif dan terfokus ini tidak hanya melindungi data dan sistem, tetapi juga membangun kepercayaan dengan mitra bisnis dan pelanggan.
Namun, meskipun langkah-langkah ini menunjukkan kemajuan, masih terdapat tantangan besar yang harus dihadapi. Banyak perusahaan memiliki alat keamanan yang memadai di atas kertas—seperti firewall dan pelatihan kesadaran keamanan—tetapi sering kali kurang dalam kemampuan praktis saat menghadapi tekanan dunia nyata. Bukti menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, pertahanan perusahaan gagal ketika serangan terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi tidak hanya harus mematuhi regulasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk melihat dan mengelola risiko dengan lebih baik.Perkembangan ini penting bagi pemuda Indonesia, generasi yang memasuki dunia kerja di bidang teknologi informasi dan keamanan siber, karena menciptakan permintaan bagi CISO yang terampil serta profesional IT yang mahir dalam penggunaan AI untuk meningkatkan operasi keamanan. Dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin menyadari pentingnya investasi dalam keamanan siber, peluang karir di bidang ini diprediksi akan tumbuh. Dengan uang yang diinvestasikan dalam keamanan siber bisa mencapai miliaran dolar secara global, penting bagi pemuda untuk memasuki industri ini dengan keterampilan yang relevan, seperti pemahaman tentang AI dan risiko siber.Secara keseluruhan, perkembangan kebijakan dan teknologi ini memberikan gambaran jelas tentang masa depan keamanan informasi di Indonesia. Dengan potensi pasar AI yang terus berkembang—yang bisa mencapai USD 4,8 triliun pada tahun 2033 di tingkat global—a peningkatan pemahaman dan penerapan teknologi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap keamanan nasional dan perbaikan infrastruktur digital di Indonesia, mengarah pada perubahan yang menguntungkan bagi masyarakat luas.