TLDR
GalaxySpace berhasil meluncurkan satelit CubeSat pertama untuk pelanggan di Asia Tenggara. Misi ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menyediakan solusi terintegrasi untuk peluncuran satelit. Perusahaan ruang angkasa China mulai beralih dari mengekspor produk menjadi mengekspor layanan dan ekosistem. Pomodo.id - GalaxySpace, perusahaan luar angkasa asal Beijing, baru saja meluncurkan satelit turnkey pertamanya untuk pelanggan di Asia Tenggara, menandai langkah penting dalam persaingan dengan SpaceX milik Elon Musk. Peluncuran ini dilakukan pada tanggal 22 Mei 2026, menggunakan roket Long March-6C dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan di provinsi Shanxi. Satelit Lingzhi-09, yang dikembangkan untuk Badan Pengembangan Teknologi Geo-Informatika dan Ruang Angkasa Thailand (GISTDA), dirancang untuk mengumpulkan data penginderaan jauh yang bermanfaat bagi pertanian, sumber daya alam, dan pelatihan praktis bagi mahasiswa Thailand.Dalam peluncuran ini, GalaxySpace tidak hanya meluncurkan Lingzhi-09 tetapi juga enam satelit lainnya, menunjukkan kapasitas dan kemampuan mereka dalam menyediakan layanan terkandung yang mencakup pengiriman satelit, pengoperasian, dan pelatihan. Ini adalah pertama kalinya sebuah perusahaan luar angkasa komersial Tiongkok berhasil mengembangkan dan meluncurkan satelit secara lengkap untuk pelanggan di Asia Tenggara sebagai solusi paket. Proses ini memungkinkan personel Thailand dilatih di China, di mana mereka kemudian dibantu oleh tim GalaxySpace untuk membangun dan menguji sistem darat di Thailand.
Paket solusi turnkey adalah layanan lengkap yang mencakup semua aspek dari pengembangan hingga peluncuran satelit. Dalam konteks ini, GalaxySpace menawarkan pelatihan untuk penggunaan dan pengoperasian satelit kepada instansi di Thailand. Ini penting karena melibatkan transfer teknologi serta penguatan kapasitas lokal di negara tujuan, yang dapat memperkuat kemampuan teknis dan inovasi di kawasan tersebut.Di sisi lain, meskipun GalaxySpace menunjukkan kemampuan dalam meraih kontrak di luar negeri, tantangan tetap ada. Perusahaan luar angkasa top seperti SpaceX memiliki keunggulan dalam teknologi roket dan infrastruktur yang lebih mapan. Pendekatan agresif SpaceX untuk mengembangkan jaringan satelit internet globalnya, Starlink, memberi mereka keunggulan kompetitif. Sebagai tambahan, SpaceX memiliki pengalaman yang lebih dalam dalam membantu berbagai misi luar angkasa, yang mungkin membuat mereka lebih menarik bagi calon pelanggan.Bagi pembaca muda di Indonesia, perkembangan ini mencerminkan peluang penambahan karier dan sumber daya baru di sektor industri luar angkasa. Dengan dunia luar angkasa yang mengalami pertumbuhan pesat, keterlibatan perusahaan seperti GalaxySpace dalam mengembangkan dan menyuplai teknologi akan membuka peluang kerja di bidang teknik, teknologi informasi, dan manajemen proyek. Pelatihan yang diberikan untuk teknologi dan penggunaan satelit juga dapat diadopsi di Indonesia, menciptakan potensi bagi peningkatan dalam bidang riset dan pengembangan teknologi lokal.Investasi dalam sektor luar angkasa dan teknologi satelit menjanjikan masa depan yang cerah untuk negara-negara yang mendukung pengembangan ini. Bagi Indonesia, mengadopsi serta mengembangkan proyek-proyek serupa bisa berkontribusi pada perekonomian digital di masa depan. Pertumbuhan dalam teknologi komunikasi satelit bisa jadi relevan mengingat penetrasi internet di Indonesia yang terus meningkat, yang diproyeksikan mencapai 20,7% dari PDB pada tahun 2045. Ini menandakan tempat yang semakin signifikan bagi Indonesia dalam peta teknologi global.Secara keseluruhan, meski GalaxySpace menunjukkan kemampuan baru yang menarik di sektor luar angkasa Asia Tenggara, faktor kompetisi dari raksasa seperti SpaceX menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Perkembangan ini akan mendorong generasi muda untuk mengembangkan keahlian baru dan mengeksplorasi peluang di bidang teknologi dan inovasi.