TLDR
Transformasi AI di perusahaan lebih lambat dari yang diperkirakan, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapai hasil yang signifikan. Perubahan organisasi dan model operasional merupakan tantangan yang lebih besar dibandingkan dengan teknologi itu sendiri. Perusahaan harus menetapkan ekspektasi yang realistis dan berinvestasi dalam perubahan organisasi untuk memanfaatkan potensi AI. Pomodo.id - Transformasi dengan kecerdasan buatan (AI) di perusahaan-perusahaan di seluruh dunia membutuhkan waktu, jauh dari kesan cepat atau instan. Narasi yang berkembang di media sering menggambarkan bahwa perusahaan akan segera beralih menjadi organisasi yang sepenuhnya mengandalkan AI. Namun, realitas menunjukkan bahwa meskipun AI memiliki potensi besar, pergeseran yang nyata dalam model bisnis dan operasional akan berlangsung lebih lama. Dalam satu dekade mendatang, perusahaan akan memiliki cukup waktu untuk belajar, beradaptasi, dan merancang kembali model operasional mereka untuk menangkap nilai dari teknologi ini secara maksimal.Beberapa survei menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga proyek AI di perusahaan dinyatakan sebagai "perubahan permukaan" yang tidak mengubah proses yang ada. Sekitar 30% proyek berusaha mendesain ulang proses-proses kunci dengan tetap mempertahankan model bisnis yang ada, sementara 34% berupaya melakukan transformasi yang lebih dalam. Ini mengindikasikan bahwa meskipun banyak perusahaan mengalami peningkatan produktivitas dari AI, sejauh ini, transformasi yang sebenarnya masih tergolong sedikit. Kecepatan yang berlebihan dalam mengadopsi AI tanpa dasar yang kuat dapat menimbulkan risiko, dan kepercayaan dari karyawan serta eksekutif masih dalam tahap pembangunan. Secara global, sekitar 80% karyawan merasa skeptis terhadap AI yang memiliki tingkat otonomi tinggi.
Agentic AI adalah jenis AI yang mampu bekerja secara mandiri, membuat keputusan, dan melakukan tugas tanpa intervensi manusia. Meskipun teknologi ini menjanjikan efisiensi yang lebih besar, ada kekhawatiran mengenai keamanan dan etika penggunaannya. Kesadaran akan risiko-risiko ini penting bagi pekerja muda di Indonesia yang mungkin terjun ke dalam industri berbasis AI. Membina kepercayaan di antara pengguna adalah langkah kritis untuk memastikan penerimaan teknologi ini.
Bagi generasi muda di Indonesia, kenyataan bahwa transformasi AI memerlukan waktu menciptakan kesempatan untuk membangun keterampilan yang relevan dan siap menghadapi masa depan yang berbasis teknologi. Hal ini berarti mereka memiliki waktu untuk mempelajari cara-cara baru dalam bekerja dan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Dalam konteks pekerjaan, hal ini juga menunjukkan bahwa meskipun AI dapat menggantikan beberapa fungsi, peluang kerja baru juga akan muncul di bidang pemrograman, analisis data, dan pengelolaan AI. Di Indonesia, industri yang berfokus pada teknologi sudah menunjukkan dukungan besar terhadap pengembangan keterampilan digital.Namun, tantangan tetap ada. Adopsi AI di Indonesia, contohnya, masih di bawah 10% dari total perusahaan, yang menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memaksimalkan potensi teknologi ini. Di pihak lain, perusahaan harus memperhatikan bahwa kecepatan dalam menerapkan teknologi ini tanpa strategi yang jelas dapat menyebabkan lebih banyak kerugian daripada keuntungan. Dengan risiko yang tinggi dan harapan yang perlu dikendorkan, perusahaan harus bersiap untuk transisi yang lebih organik daripada ledakan yang cepat.Dalam jangka panjang, jika perusahaan di Indonesia sukses mengintegrasikan AI ke dalam model bisnis mereka secara berkelanjutan, tentu ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi pemerintah. AI berpotensi memberikan kontribusi yang signifikan, dengan laporan yang menyebutkan bahwa AI dapat berkontribusi hingga USD 366 miliar per tahun untuk ekonomi, asalkan infrastruktur dan bakat yang tepat tersedia.Dengan semua ini, penting bagi para generasi muda untuk menyaring berita dan hype tentang AI, dan mulai mengeksplorasi cara praktis untuk menjadikan teknologi ini sebagai alat yang berguna dan bermanfaat untuk karir dan kehidupan sehari-hari mereka di era digital ini.