TLDR
Industri pengiriman dapat berkontribusi dalam pemantauan polusi plastik di lautan melalui teknologi ADIS. Proyek ini memberikan pemahaman baru tentang konsentrasi plastik dan distribusinya di lautan. Kolaborasi antara ilmuwan dan industri dapat mempercepat solusi praktis untuk menjaga kebersihan lautan. Pomodo.id - Kapal pelayaran kini berperan penting dalam upaya memantau tingkat sampah plastik di lautan. Langkah ini diambil melalui kolaborasi antara industri pelayaran dan para ilmuwan lingkungan untuk memantau limbah plastik. Sebagai contoh, organisasi non-pemerintah Ocean Cleanup bekerja sama dengan perusahaan pelayaran global dalam proyek baru bernama Automated Debris Imaging System (ADIS). Sistem ini memanfaatkan kamera pintar yang ditenagai oleh kecerdasan buatan (AI) yang dipasang pada kapal untuk mengidentifikasi dan mencatat lokasi plastik yang mengapung saat kapal mengikuti rute normal mereka melintasi lautan.Kepala proyek ADIS, Robin de Vries, menyatakan bahwa inovasi ini telah berkembang dari sekadar menempelkan kamera GoPro pada railing kapal menjadi menggunakan sistem ADIS 2 yang lebih canggih. Kamera-kamera ini memberikan peta global yang diperbarui secara terus menerus tentang hotspot plastik di lautan, membantu menentukan intervensi yang diperlukan dan memahami apakah langkah-langkah anti-pencemaran yang diambil bekerja dengan efektif. Sistem ini mampu memproses citra mentahnya sendiri dengan kecepatan sekitar satu frame per detik, hanya menyimpan item yang menarik. Dalam beberapa pengecekan, saat ini sudah ada 22 kapal yang dilengkapi dengan kamera-kamera ini, dan mereka berharap untuk menggandakan jumlah tersebut pada tahun depan.
Automated Debris Imaging System (ADIS) adalah sebuah teknologi yang mengambil gambar otomatis untuk mendeteksi sampah plastik di laut. Pentingnya sistem ini terletak pada kemampuannya untuk memberikan data akurat tentang lokasi dan kondisi sampah plastik. Dengan memetakan area-area berisiko tinggi, sistem ini membantu pihak berwenang dan organisasi lingkungan dalam merencanakan tindakan pembersihan yang tepat. Kesalahpahaman umum adalah bahwa teknologi ini tidak efektif, padahal ADIS telah terbukti mampu mengumpulkan data yang membantu dalam pemantauan kualitas laut.
Walaupun teknologi ini memiliki potensi besar, ada tantangan yang perlu dihadapi. Beberapa pihak mencemaskan bahwa penggunaan teknologi seperti ini bisa menimbulkan biaya tambahan bagi perusahaan pelayaran, yang sudah menghadapi tantangan keuangan akibat perubahan regulasi lingkungan dan biaya operasional. Selain itu, efektivitas sistem ini tergantung pada kerjasama yang kuat antara berbagai pihak, termasuk perusahaan pelayaran dan badan lingkungan. Tanpa dukungan dan komitmen dari semua pemangku kepentingan, tujuan untuk mengurangi sampah plastik di laut mungkin tidak dapat tercapai.Keberlanjutan proyek ini diharapkan membawa dampak positif di masa depan. Proyek ini dapat menginspirasi negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara, untuk mengambil langkah serupa dalam memerangi pencemaran laut. Pada akhirnya, keberhasilan inisiatif seperti ADIS bukan hanya akan mengurangi jumlah sampah plastik di lautan, tetapi juga dapat meningkatkan kesadaran global mengenai masalah pengelolaan sampah plastik dan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut. Penggunaan teknologi yang inovatif ini mengindikasikan bahwa langkah-langkah mencegah limbah dapat dilakukan secara lebih efisien dalam skala yang lebih besar.Inisiatif yang diambil oleh Ocean Cleanup dan mitra pelayaran global menandai sebuah langkah maju dalam upaya memerangi pencemaran laut. Dengan kolaborasi seperti ini, kita memasuki era baru pemantauan dan pengelolaan lingkungan yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan dampak positif bagi lautan kita. Meskipun tantangan masih akan ada, harapan dapat ditingkatkan dengan penerapan teknologi dan kolaborasi yang lebih baik di seluruh dunia.