TLDR
Penelitian ini menunjukkan potensi untuk menghasilkan hidrogen hijau dan plastik berkelanjutan dari limbah makanan. Menghilangkan membran dalam elektroliser dapat memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi energi. Hidrogen hijau memiliki kemampuan untuk mendekarbonisasi industri berat dan menyimpan energi terbarukan. Pomodo.id - Para ilmuwan di Keele University, Inggris, telah menciptakan sebuah elektroliser yang memperlihatkan keberhasilan ganda dalam bidang kimia hijau. Alat ini dirancang untuk mengubah limbah makanan menjadi dua produk bernilai tinggi sekaligus: hidrogen hijau dan bahan baku untuk plastik yang berkelanjutan. Dalam uji coba, elektroliser tersebut menunjukkan laju reaksi yang relevan di tingkat industri. Ini menunjukkan potensi besar untuk diterapkan pada skala yang lebih luas, mengingat limbah makanan menyumbang sekitar 8 hingga 10 persen dari emisi gas rumah kaca global.Sebagian besar elektroliser konvensional bekerja dengan cara memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan listrik. Dalam proses ini, gas oksigen dilepaskan ke udara, sementara hidrogen ditangkap untuk digunakan sebagai energi. Namun, terdapat kendala biaya yang signifikan. Karena campuran hidrogen dan oksigen menciptakan risiko ledakan, sistem tradisional memerlukan membran internal yang mahal untuk menjaga agar kedua gas tersebut terpisah. Membran ini mudah rusak dan membutuhkan banyak daya listrik untuk memaksa reaksi berlangsung.Tim di Keele University berhasil mengatasi masalah ini dengan memperkenalkan “molekul yang berasal dari biomassa”—yang diekstraksi dari limbah makanan—ke dalam sistem. Peneliti Dr. Charlie Creissen dan mahasiswa PhD Lewis Cousins mengubah reaksi kimia di dalam alat tersebut secara fundamental. Sistem ini menghentikan produksi gas oksigen sama sekali. Tanpa oksigen, tidak ada risiko pencampuran gas yang berbahaya, yang memungkinkan tim untuk menghilangkan membran mahal tersebut dari desain.
Elektroliser adalah perangkat yang menggunakan listrik untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen. Dalam kasus ini, elektroliser baru di Keele University memberikan alternatif yang lebih aman dan lebih efisien dengan tidak memproduksi oksigen, sehingga mengurangi risiko ledakan. Inovasi ini penting karena dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari produksi plastik, sambil mendukung penggunaan limbah makanan secara berkelanjutan.
Namun, meskipun penemuan ini menjanjikan, ada tantangan dalam melakukan skala produksi secara komersial. Konversi limbah makanan menjadi hidrogen dan bahan dasar plastik berkelanjutan perlu pengujian lebih lanjut untuk memastikan efisiensi dan biaya. Biaya pembuatan dan penerapan teknologi baru ini akan menjadi faktor penting dalam adopsi di industri yang lebih luas.Jika teknologi ini dapat diterapkan secara luas, itu dapat membantu mengurangi emisi yang terkait dengan produksi plastik yang biasanya menghasilkan ratusan juta ton karbon dioksida dan polusi mikroplastik setiap tahunnya. Hal ini menjadi sangat relevan dalam memperbaiki ekosistem dan mempromosikan keberlanjutan lingkungan. Menerapkan inovasi seperti ini di negara-negara dengan tingkat limbah makanan tinggi, termasuk di Indonesia, dapat menjadi langkah penting menuju pengelolaan sumber daya yang lebih baik dan dampak lingkungan yang lebih kecil. Dengan mengatasi masalah limbah makanan dan produksi plastik, kita berpotensi memberikan kontribusi besar terhadap tujuan keberlanjutan global.