TLDR
Bahan bakar penerbangan berkelanjutan dapat diintegrasikan dengan infrastruktur pengisian bahan bakar yang ada tanpa memerlukan modifikasi pada pesawat atau operasi bandara. Infinium berhasil menunjukkan bahwa teknologi power-to-liquids dapat digunakan dalam penerbangan komersial dengan mengurangi emisi gas rumah kaca lebih dari 90% dibandingkan dengan bahan bakar jet berbasis minyak bumi. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan produksi bahan bakar sintetik dengan biaya yang kompetitif untuk memenuhi permintaan industri penerbangan yang terus berkembang. Pomodo.id - Penerbangan komersial penumpang di Amerika Serikat baru-baru ini mencatatkan sejarah dengan penggunaan bahan bakar sintetis yang ramah lingkungan. Untuk pertama kalinya, sebuah penerbangan dilengkapi dengan bahan bakar yang dihasilkan dari karbon dioksida yang ditangkap dan listrik terbarukan, mengalir melalui jaringan bahan bakar bandara konvensional. Demonstrasi ini menunjukkan kemajuan penting bagi teknologi power-to-liquids, dan membuktikan bahwa bahan bakar sintetis dapat terintegrasi dengan infrastruktur pengisian yang ada tanpa perlu melakukan perubahan pada pesawat atau operasional bandara.American Airlines berhasil menjalankan penerbangan ini dari Bandara Internasional Corpus Christi ke Bandara Internasional Dallas Fort Worth. Penerbangan tersebut menggunakan bahan bakar aviasi yang berkelanjutan secara elektro atau eSAF, yang diproduksi oleh pengembang bahan bakar bersih, Infinium. Bahan bakar ini mencapai pesawat melalui sistem bahan bakar bandara yang sudah ada, memberikan demonstrasi nyata tentang teknologi bahan bakar aviasi generasi berikutnya.Proses pembuatan eSAF oleh Infinium berbeda dari bahan bakar aviasi berkelanjutan konvensional yang bergantung pada bahan baku biologis. Infinium menggunakan karbon dioksida yang dihasilkan dari limbah serta listrik terbarukan. Proses ini menggabungkan karbon yang ditangkap dengan hidrogen yang dihasilkan menggunakan kekuatan terbarukan untuk menciptakan hidrokarbon sintetis yang sangat mirip dengan bahan bakar jet konvensional. Bahan bakar yang digunakan berasal dari fasilitas Pathfinder Infinium di Corpus Christi, yang merupakan pabrik eFuels berskala komersial pertama di dunia. Sejak mulai beroperasi pada tahun 2023, pabrik tersebut awalnya memproduksi eDiesel dan eNaphtha sebelum berkembang ke produksi bahan bakar aviasi berkelanjutan.Namun, meskipun langkah ini merupakan kemajuan yang signifikan, tantangan tetap ada. Produksi eSAF saat ini masih terbatas dan tidak dapat memenuhi kebutuhan global secara keseluruhan. Dilaporkan bahwa permintaan bahan bakar aviasi di seluruh dunia diperkirakan meningkat dari just over 100 miliar galon pada tahun 2025 menjadi 165 miliar galon pada tahun 2050. Menurut pengembang, proses produksi Infinium dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sepanjang siklus hidup lebih dari 90%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan, kesulitan dalam memenuhi permintaan global tetap menjadi kendala.Implementasi penerbangan ini menciptakan peluang besar bagi industri penerbangan global untuk beralih menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, yang sangat relevan dengan tantangan perubahan iklim. Mengingat potensi besar dalam mengurangi emisi, langkah ini bisa menjadi model untuk penerapan bahan bakar berkelanjutan di negara lain termasuk Indonesia. Pada tahun-tahun mendatang, kesuksesan teknologi seperti ini dapat membuka peluang baru dan mengubah cara industri penerbangan beroperasi menuju jejak karbon yang lebih rendah.
Bahan bakar aviasi yang berkelanjutan secara elektro (eSAF) adalah inovasi dalam produksi bahan bakar yang menggunakan karbon dioksida yang ditangkap serta energi terbarukan. Proses ini mengubah limbah karbon menjadi bahan bakar yang dapat digunakan tanpa memerlukan perubahan pada mesin pesawat. Hal ini penting karena secara signifikan dapat membantu mengurangi jejak karbon penerbangan, yang merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca utama. Keberhasilan teknologi ini menunjukkan bahwa ada alternatif yang dapat mendukung keberlanjutan tanpa mengorbankan performa.
Inisiatif seperti ini bisa menjadi contoh bagi Indonesia untuk mempertimbangkan pengembangan teknologi bahan bakar terbarukan, mengingat negara tersebut juga menghadapi tantangan serupa dalam upaya mengurangi emisi dan meningkatkan keberlanjutan di sektor transportasi.