TLDR
Desain chip berbasis SRAM dapat mengurangi kebutuhan daya komputasi untuk teleskop luar angkasa hingga 59 kali lipat. Pengurangan daya mengarah pada pengurangan berat pesawat luar angkasa, yang dapat menghemat biaya misi hingga $430 juta selama 25 tahun. Meningkatkan efisiensi pemrosesan data sangat penting untuk misi luar angkasa yang memerlukan pemrosesan real-time. Pomodo.id - Desain chip berbasis SRAM yang baru dikembangkan di Universitas Michigan dapat mengurangi kebutuhan daya komputasi untuk teleskop luar angkasa masa depan hingga hampir 59 kali lipat. Hal ini berpotensi mempermudah pencitraan planet mirip Bumi di sekitar bintang-bintang yang jauh. Chip yang dirancang menggunakan memori statis yang dikenal sebagai SRAM (Static Random-Access Memory) ini mampu menurunkan konsumsi daya dari sekitar 3.000 watt pada sistem berbasis GPU (Graphics Processing Unit) konvensional menjadi hanya 51 watt. Di ruang angkasa, perbedaan ini sangat penting sebab menurunkan daya komputasi berarti dapat memperkecil ukuran panel surya, baterai, dan sistem pendinginan, yang pada akhirnya mengurangi total massa pesawat luar angkasa.Penelitian ini difokuskan pada konteks observatorium luar angkasa Habitable Worlds yang diusulkan oleh NASA. Teleskop ini direncanakan untuk mencari tanda-tanda kehidupan di planet-planet di luar tata surya kita. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan efektif, teleskop ini harus terus-menerus memperbaiki distorsi optik kecil agar dapat memblokir cahaya dari bintang-bintang yang lebih terang dan mengungkap keberadaan planet-planet yang jauh lebih redup. Namun, tantangan tidak hanya terletak pada kurangnya daya komputasi, tetapi juga dalam memindahkan data antara memori dan prosesor yang dapat menghabiskan lebih banyak energi daripada proses perhitungan itu sendiri.
Chip SRAM adalah jenis chip yang menggunakan memori statis untuk menyimpan data dan memungkinkan akses yang lebih cepat dibandingkan dengan memori dinamis (DRAM). Chip ini sangat penting untuk aplikasi yang memerlukan kecepatan tinggi dalam pemrosesan data, seperti dalam tugas-tugas kompleks pada teleskop luar angkasa. Meskipun beberapa orang mungkin percaya bahwa semua chip memori adalah sama, kenyataannya, SRAM dapat menghemat energi yang dibutuhkan untuk pemrosesan teks atau gambar dalam situasi di luar angkasa yang sangat bergantung pada sumber daya yang terbatas.
Kendati ada beberapa keuntungan dari desain chip baru ini, masih ada batasan yang perlu diperhatikan. Misalnya, meskipun chip ini menawarkan penghematan substansial dalam daya, tidak semua aspek dari pengoperasian teleskop luar angkasa dapat dioptimalkan dengan cara yang sama. Misalnya, pengembangan teknologi lain yang berdampak pada kinerja keseluruhan dari teleskop juga sangat penting. Faktor-faktor lainnya, seperti penyimpanan data dan penanganan sinyal, tetap membutuhkan perhatian untuk memastikan bahwa semua komponen bekerja secara sinergis.Ke depan, desain chip hemat daya ini dapat membawa perubahan besar dalam misi luar angkasa, khususnya dalam pencarian planet layak huni dan kemungkinan kehidupan di luar bumi. Dengan kemampuan untuk mengurangi konsumsi daya, misi masa depan dapat dirancang dengan fokus pada efisiensi biaya dan daya. Ini akan memberikan lebih banyak sumber daya untuk penelitian dan teknologi lain yang mungkin diperlukan saat menjelajahi lebih jauh ke luar tata surya kita. Dengan semakin banyaknya negara yang berfokus pada eksplorasi luar angkasa, potensi pengembangan teknologi seperti chip ini sangat relevan untuk meningkatkan kolaborasi internasional di bidang sains dan teknologi serta menambah pengetahuan bagi umat manusia.Serta belum ada proyek yang berhubungan langsung dengan Indonesia dalam konteks ini, perkembangan teknologi ini berpotensi menjadi inspirasi untuk kolaborasi masa depan atau pengembangan riset di sektor sains dan teknologi di Indonesia, terutama di era di mana eksplorasi luar angkasa semakin menjadi perhatian dan ambisi global.