TLDR
Proses baru yang dikembangkan dapat memproduksi asam amino dari karbon dioksida, hidrogen, dan metanol dengan menggunakan energi solar. Teknologi ini menawarkan alternatif yang lebih berkelanjutan untuk memenuhi permintaan protein di sektor pakan ternak dan produksi daging yang dibudidayakan. Meskipun berhasil menunjukkan rantai produksi, teknologi ini masih dalam tahap bukti konsep dan memerlukan peningkatan efisiensi. Pomodo.id - Teknologi baru yang dikembangkan oleh para peneliti di Jerman dapat mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi asam amino, yang merupakan elemen penting dalam pembuatan protein. Inovasi ini dihasilkan oleh tim ilmuwan dari Technical University of Munich (TUM) dan memiliki potensi untuk menyediakan cara yang lebih berkelanjutan dalam memproduksi pakan ternak dan daging kultur. Dengan permintaan makanan global yang diperkirakan akan meningkat sekitar 60 persen pada tahun 2050, sedangkan lahan pertanian baru hanya diperkirakan naik sekitar dua persen, teknologi ini menawarkan solusi untuk mengatasi tantangan ini.Proses yang diusulkan memanfaatkan energi matahari untuk menghasilkan listrik melalui sistem photovoltaic (PV). Listrik ini kemudian digunakan untuk menghasilkan hidrogen yang dikombinasikan dengan CO2 yang tertangkap untuk menciptakan metanol, sebuah bahan kimia industri yang banyak digunakan. Selanjutnya, enzim khusus digunakan untuk mengubah metanol melalui serangkaian reaksi menjadi asam amino. Tim peneliti berhasil memproduksi tujuh jenis asam amino, termasuk glisin, serin, L-alanin, L-aspartat, L-valin, L-glutamat, dan L-prolin.
Teknologi solar adalah metode yang memanfaatkan energi matahari untuk menghasilkan listrik atau energi panas. Hal ini penting karena dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu kesalahpahaman umum adalah bahwa teknologi ini hanya cocok untuk daerah dengan sinar matahari yang intens. Namun, teknologi solar modern dapat bekerja dengan efisiensi bahkan dalam kondisi pencahayaan yang medium hingga rendah, membuatnya lebih fleksibel dalam aplikasinya.
Meskipun menjanjikan, ada beberapa tantangan. Misalnya, efektivitas proses ini sangat bergantung pada ketersediaan sinar matahari dan infrastruktur yang memadai untuk pengumpulan CO2. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaan enzim dalam memproduksi asam amino agar lebih efisien dan ekonomis.Pengembangan teknologi ini memiliki implikasi besar untuk sektor pertanian dan produksi pakan ternak. Jika berhasil diterapkan secara luas, teknologi ini dapat mengurangi ketergantungan pada sumber pakan yang berbasis pertanian yang intensif seperti kedelai, yang menghadapi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan global. Inovasi ini bisa menjadi langkah menuju produksi pakan ternak yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.Akhirnya, dengan fokus pada usaha untuk menghasilkan protein secara lebih berkelanjutan, dapat diharapkan agar teknologi ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan yang terus meningkat dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih bijaksana.Ini artikel ini disintesis dari 1 sumber.