Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

China Boros Energi Hijau Karena Manajemen Batu Bara Dan Jaringan Yang Kaku

Sains
Iklim dan Lingkungan
News Publisher
04 Jun 2026
337 dibaca
2 menit
China Boros Energi Hijau Karena Manajemen Batu Bara Dan Jaringan Yang Kaku

TLDR

China membuang banyak energi terbarukan karena manajemen jaringan yang infleksibel.
Krisis Selat Hormuz meningkatkan kebutuhan China akan keamanan energi, tetapi sistem listriknya tidak mampu mengimbangi.
Penggunaan bahan bakar fosil meningkat karena pembatasan pada pembangkit listrik tenaga angin dan solar.
## China Boros Energi Hijau Karena Manajemen Batu Bara dan Jaringan yang KakuSaat dunia semakin fokus beralih ke sumber energi terbarukan, isu pemborosan energi hijau di China menjadi relevan. Menurut analisis oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), sistem manajemen energi di China mengalami tantangan yang mengakibatkan pemborosan besar dalam pemanfaatan energi terbarukan seperti angin dan solar.Pada tanggal 4 Juni 2023, CREA menerbitkan analisis yang menunjukkan bahwa manajemen yang kaku terkait pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di China berkontribusi signifikan terhadap pemborosan energi hijau. Upaya untuk menggunakan sumber energi bersih seperti tenaga angin dan solar sering kali tidak maksimal karena infrastruktur yang belum sepenuhnya adaptif. Data menunjukkan bahwa energi terbarukan ini bisa menghasilkan listrik yang setara dengan kebutuhan seluruh negara Prancis, menunjukkan seberapa besar potensi yang terbuang.Mekanisme di balik pemborosan ini berakar pada ketergantungan China pada batu bara sebagai sumber utama energi. Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara sering kali memiliki kebijakan operasional yang kaku, tidak dapat beradaptasi dengan fluktuasi pasokan dari sumber terbarukan. Ketika angin mengalir kencang atau matahari bersinar cerah, pembangkit listrik ini tetap beroperasi pada kapasitas penuh, yang pada akhirnya tidak memanfaatkan potensi energi hijau. Sistem kelistrikan China, yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan permintaan energi yang terus meningkat, sering kali memaksa energi terbarukan tidak terpakai. Keseimbangan antara energi terbarukan dan konvensional menjadi semakin rumit dan menyebabkan pemborosan yang besar.Implikasi dari pemborosan energi hijau yang signifikan ini tidak bisa diremehkan. Dengan populasi terbesar di dunia dan pertumbuhan ekonomi yang cepat, China memiliki tanggung jawab besar untuk mengurangi emisi karbon dan memimpin transisi global menuju energi bersih. Jika masalah manajemen tidak segera ditangani, maka ambisi China untuk memenuhi kapasitas energi terbarukan dan mencapai target pengurangan emisi akan terhambat. Kebijakan yang lebih fleksibel dan infrastruktur yang lebih baik diperlukan untuk memaksimalkan potensi energi hijau, yang pada gilirannya dapat berdampak positif pada lingkungan global.Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari 3 sumber.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.