Fokus
Bisnis

Pendanaan Startup Teknologi dan Inovasi

Share

Kelompok berita ini membahas tren pendanaan startup teknologi, termasuk pendanaan besar, valuasi unicorn, dan inisiatif akselerator yang mendorong inovasi di industri teknologi.

16 Feb 2026, 08.00 WIB

Startup India C2i Hadirkan Solusi Hemat Energi di Pusat Data AI

Startup India C2i Hadirkan Solusi Hemat Energi di Pusat Data AI
Permintaan daya listrik untuk pusat data AI semakin meningkat dan menjadi hambatan utama dalam mengembangkan infrastruktur AI. Permasalahan utama bukan hanya kekuatan komputasi, tapi juga efisiensi dalam penggunaan dan konversi energi di pusat data. Saat ini, sekitar 15 sampai 20 persen energi hilang ketika listrik yang masuk ke pusat data harus diturunkan voltasenya dari tinggi ke tingkat yang bisa digunakan oleh prosesor AI seperti GPU. Perusahaan startup asal India, C2i Semiconductors, mencoba menawarkan solusi inovatif dengan membangun sistem daya terpadu berbasis plug-and-play yang secara signifikan dapat mengurangi pemborosan energi ini. Dengan sistem mereka, kehilangan energi total bisa dipotong sekitar 10 persen, yang berarti penghematan energi hingga 100 kilowatt untuk setiap megawatt konsumsi saat ini. Ini akan berpengaruh juga ke pengurangan biaya pendinginan dan peningkatan efisiensi pemakaian GPU. Modal yang diperoleh C2i kini sudah mencapai 19 juta dolar Amerika, termasuk pendanaan 15 juta dolar dari Peak XV Partners. Startup ini didirikan oleh mantan eksekutif Texas Instruments dan sudah memiliki sekitar 65 insinyur yang berfokus pada pengembangan sistem ini. Mereka juga sedang menyiapkan operasi pelanggan di Amerika Serikat dan Taiwan sebagai bagian dari rencana awal. Analis melihat investasi ini sangat strategis karena biaya energi adalah komponen utama biaya operasional pusat data, terutama untuk server dan AI yang membutuhkan daya besar. Dengan penghematan yang berhasil diwujudkan, perusahaan dapat menurunkan total biaya kepemilikan serta meningkatkan profitabilitas secara signifikan. Namun, keberhasilan C2i akan sangat bergantung pada validasi teknologi mereka yang akan dilakukan segera setelah chip mereka dibuat antara April hingga Juni 2024. Ekosistem desain semikonduktor di India juga terus berkembang, sehingga memungkinkan startup seperti C2i untuk bersaing secara global dalam menghadirkan produk yang inovatif dan ekonomis. Bulan-bulan ke depan akan menjadi saat penting untuk mengetahui apakah teknologi ini dapat diterima oleh pasar dan dapat mengubah cara pusat data mengelola energi di masa depan.
05 Feb 2026, 06.49 WIB

Duna: Startup Stripe Mafia Eropa dengan Inovasi Digital Passport Bisnis

Duna: Startup Stripe Mafia Eropa dengan Inovasi Digital Passport Bisnis
Stripe dikenal sebagai perusahaan fintech yang tak hanya sukses, tapi juga telah melahirkan bermacam startup melalui alumni-alumni mereka, termasuk Duna. Startup asal Jerman dan Belanda ini mencoba mengatasi masalah rumit di bidang onboarding bisnis, terutama dalam verifikasi identitas perusahaan yang menyita banyak waktu dan biaya. Duna mendapatkan suntikan dana sebesar €30 juta dari CapitalG, anak perusahaan Alphabet, yang menjadi salah satu investor utama Stripe. Pendanaan ini membuat Duna menjadi startup dengan pendanaan terbanyak di antara startup yang berhubungan dengan Stripe di Eropa. Fokus utama Duna adalah membantu perusahaan fintech mengurangi tingkat churn saat onboarding pelanggan bisnis. Mereka melakukan ini dengan membuat data verifikasi sendiri, bukan sekadar mengumpulkan data yang sudah ada dan seringkali tidak akurat, sehingga menawarkan solusi yang lebih tepat dan efisien. Selain menangani bisnis onboarding, visi jangka panjang Duna adalah membangun jaringan global yang memungkinkan bisnis menggunakan kembali data yang sudah diverifikasi di berbagai platform, seperti dari aplikasi pengelolaan keuangan hingga membuka rekening bank. Strategi mereka untuk mencapai jaringan besar dimulai dengan mengidentifikasi kelompok kecil perusahaan yang saling berhubungan erat terlebih dahulu. Di samping itu, Duna juga berupaya mengotomatisasi proses verifikasi dengan AI agar dapat mengurangi biaya dan mempercepat onboarding tanpa menunggu jaringan besar benar-benar terbentuk.
05 Feb 2026, 04.39 WIB

Resolve AI Kumpulkan 125 Juta Dolar dengan Valuasi 1 Miliar untuk Otomatisasi SRE

Resolve AI Kumpulkan 125 Juta Dolar dengan Valuasi 1 Miliar untuk Otomatisasi SRE
Resolve AI adalah startup yang fokus pada otomatisasi pekerjaan system reliability engineering atau SRE, yang bertanggung jawab atas penanganan gangguan dan kegagalan sistem. Pada 2024, Resolve AI berhasil mengumpulkan dana Seri A sebesar 125 juta dolar AS dengan valuasi mencapai 1 miliar dolar AS. Pendanaan ini dipimpin oleh Lightspeed Venture Partners bersama beberapa investor lama lainnya. Menurut laporan sebelumnya, ada informasi bahwa putaran pendanaan ini mungkin dilakukan dalam beberapa tahap dengan harga yang berbeda. Namun, perwakilan Resolve AI membantah hal ini dan memastikan bahwa seluruh saham dibeli dengan valuasi 1 miliar dolar AS. Pendanaan ini menunjukkan tingginya minat investor terhadap solusi AI di bidang SRE yang masih tergolong baru. Startup ini didirikan oleh Spiros Xanthos dan Mayank Agarwal, dua mantan eksekutif dari perusahaan teknologi Splunk. Mereka memiliki pengalaman dari mendirikan startup sebelumnya, Omnition, yang sudah diakuisisi oleh Splunk pada 2019. Dengan bekal pengalaman tersebut, mereka membangun Resolve AI untuk melayani kebutuhan otomasi troubleshooting sistem yang makin kompleks. Selain Resolve AI, ada juga startup lain yang menerapkan AI untuk mengatasi gangguan sistem, seperti Traversal yang didukung oleh Sequoia. Kategori ini dikenal dengan istilah AI SRE dan menjadi fokus perkembangan teknologi terbaru yang membantu perusahaan menjaga sistem mereka tetap andal dan stabil. Teknologi AI SRE berpotensi besar untuk mengubah cara industri menangani masalah teknis dengan lebih cepat dan efektif. Pendanaan besar yang didapatkan Resolve AI menunjukkan pasar sangat antusias dengan solusi otomasi dan AI dalam reliability engineering yang dapat mengurangi downtime dan biaya operasional.
04 Feb 2026, 22.33 WIB

ElevenLabs Raih Pendanaan Rp 8.35 triliun ($500 Juta) , Fokus Perluas AI dari Suara ke Video

ElevenLabs Raih Pendanaan Rp 8.35 triliun ($500 Juta) , Fokus Perluas AI dari Suara ke Video
ElevenLabs, sebuah perusahaan teknologi yang mengembangkan kecerdasan buatan khusus di bidang suara, berhasil mengumpulkan dana sebesar 500 juta dolar AS dalam putaran pendanaan terbarunya. Pendanaan ini dipimpin oleh Sequoia Capital, yang juga turut meningkatkan investasinya setelah sebelumnya mendukung startup ini melalui putaran penawaran sekunder. Dengan adanya pendanaan baru ini, valuasi ElevenLabs melesat menjadi 11 miliar dolar AS, naik lebih dari tiga kali lipat sejak putaran pendanaan terakhir pada Januari 2025. Investor utama lain seperti a16z dan Iconiq juga menambah investasinya secara signifikan, sementara beberapa investor lama dan investor baru seperti Lightspeed Venture Partners dan Bond turut bergabung dalam pendanaan ini. Perusahaan mengumumkan rencana penggunaan dana tersebut untuk riset dan pengembangan produk, serta memperluas ekspansi ke pasar internasional termasuk India, Jepang, Singapura, Brasil, dan Meksiko. Selain itu, ElevenLabs juga berencana mengembangkan teknologi di luar bidang suara, seperti menggabungkan audio dengan video serta mengembangkan agen AI yang bisa melakukan percakapan dan aksi otomatis. Mati Staniszewski, salah satu pendiri ElevenLabs, menyoroti pentingnya integrasi model AI dengan produk nyata yang dapat memberikan pengalaman interaktif baru bagi pengguna. Baru-baru ini, perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan LTX untuk menghasilkan konten dari audio ke video, memperkuat visi mereka dalam memperluas teknologi kreatif multimedia. Pertumbuhan ElevenLabs yang pesat juga terlihat dari pencapaian pendapatan tahunan sekitar 330 juta dolar AS di akhir tahun, dengan waktu cepat mencapai tolok ukur pendapatan antara 200 hingga 300 juta dolar AS hanya dalam lima bulan. Hal ini menunjukkan prospek cerah untuk posisi mereka di industri Voice AI yang kini semakin diminati oleh investor dan perusahaan teknologi besar lainnya.
04 Feb 2026, 15.18 WIB

Positron Dapatkan Dana Besar untuk Percepat Chip Memori AI Hemat Energi

Positron, sebuah startup semikonduktor asal Reno, Amerika Serikat, baru saja berhasil mendapat pendanaan Seri B senilai 230 juta dolar Amerika Serikat. Dana ini akan digunakan untuk mempercepat pengembangan dan penyebaran chip memori berkecepatan tinggi yang merupakan komponen krusial dalam pemrosesan AI, khususnya inferensi. Pendanaan ini melibatkan Qatar Investment Authority atau QIA, dana kekayaan kedaulatan negara Qatar yang semakin aktif membangun infrastruktur AI sebagai bagian dari strategi nasionalnya. Qatar melihat kapasitas komputasi sebagai kunci agar tetap kompetitif dalam ekonomi global dan menjadikan diri mereka pusat layanan AI di wilayah Timur Tengah. Startup ini mengembangkan chip pertama mereka yang disebut Atlas, yang diklaim mampu memberikan performa setara dengan Nvidia H100 tapi dengan konsumsi daya kurang dari sepertiganya. Positron fokus pada perangkat keras untuk inferensi AI yang menjalankan model-model AI di dunia nyata, bukan untuk pelatihan model. Kebutuhan akan solusi alternatif chipset AI meningkat karena perusahaan seperti OpenAI, meskipun merupakan pelanggan besar Nvidia, dikabarkan tidak puas dengan chipset AI terbaru dari Nvidia dan mencari opsi lain sejak tahun lalu. Positron hadir sebagai salah satu startup yang menawarkan solusi efisien dan hemat daya bagi kebutuhan inferensi AI. Strategi Qatar untuk memperkuat AI juga terlihat dari komitmen besar yang sudah dibuat, termasuk kerja sama senilai 20 miliar dolar Amerika Serikat dengan Brookfield Asset Management. Investasi dan teknologi seperti Positron akan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem AI yang mandiri dan berdaya saing tinggi di masa depan.
04 Feb 2026, 02.54 WIB

Y Combinator Kini Berikan Dana Investasi Startup Melalui Stablecoin

Y Combinator, sebuah program akselerator startup yang terkenal di dunia, telah mengumumkan opsi baru dalam memberikan dana investasi kepada startup yang diterima. Selain metode investasi konvensional berupa transfer bank, sekarang YC memungkinkan startup menerima dana awal atau seed funding melalui stablecoin yang berbasis pada teknologi blockchain. Setiap startup yang diterima di program YC akan memperoleh investasi sebesar 500.000 dolar Amerika Serikat dengan imbalan 7% saham perusahaan. Namun, dengan metode baru yang menggunakan stablecoin, proses transfer dana diyakini akan menjadi lebih cepat dan efisien, khususnya bagi para pendiri startup yang berasal dari pasar berkembang dengan kondisi perbankan yang kurang mendukung. Stablecoin yang akan digunakan meliputi platform blockchain populer seperti Base, Solana, dan Ethereum. Keputusan ini diambil seiring meningkatnya minat terhadap teknologi blockchain dan adanya kemajuan dalam regulasi kripto yang lebih mendukung di Amerika Serikat, pusat inovasi teknologi dunia. Tidak hanya memberikan opsi pembayaran baru, YC juga turut berkolaborasi dengan Base dan Coinbase Ventures untuk mendorong lebih banyak perusahaan startup yang berfokus pada blockchain. Ini menunjukkan komitmen YC dalam memperkuat ekosistem teknologi keuangan dan memperluas cakupan inovasi di sektor ini. Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan semakin banyak pendiri dari seluruh dunia, terutama yang beroperasi di wilayah yang memiliki hambatan akses finansial, dapat lebih mudah mengakses dana modal dan mempercepat pengembangan perusahaan mereka. Hal ini bisa menjadi tonggak penting untuk pertumbuhan teknologi blockchain secara global.
04 Feb 2026, 02.54 WIB

YC Hadirkan Opsi Investasi Startup Lewat Stablecoin di Blockchain

Y Combinator (YC) adalah salah satu akselerator startup paling terkenal di dunia yang biasanya menginvestasikan 500,000 dolar AS untuk mendapatkan 7% saham startup yang mereka pilih. Kini, YC akan mulai menawarkan opsi pembayaran investasi awal ini melalui stablecoin yang berbasis di beberapa blockchain populer seperti Base, Solana, dan Ethereum. Stablecoin adalah mata uang digital yang nilainya dipatok pada aset nyata seperti dolar AS, sehingga menawarkan kestabilan dibandingkan mata uang kripto lain yang volatil. Opsi ini dirasakan lebih efektif terutama untuk para pendiri startup di negara berkembang di mana transfer uang bisa jadi rumit dan mahal. Selain mempermudah transfer dana, penggunaan stablecoin ini juga didukung oleh kerjasama YC dengan Base dan Coinbase Ventures untuk mendorong lebih banyak startup yang fokus pada teknologi blockchain agar terus berkembang. Ini menunjukkan komitmen YC dalam menyambut era teknologi blockchain secara lebih serius. Kembali meningkatnya minat terhadap teknologi blockchain di Silicon Valley juga dipengaruhi oleh langkah pemerintah Amerika Serikat yang mulai membuka ruang dengan regulasi yang lebih ramah terhadap industri kripto. Hal ini membuat inovasi seperti pembayaran seed check dengan stablecoin jadi lebih memungkinkan dan mendapat dukungan. Dengan langkah ini, YC diharapkan bisa memberikan kemudahan akses pendanaan startup, mempercepat proses investasi, serta memacu lahirnya inovasi baru di bidang blockchain, terutama dari negara-negara dengan akses finansial yang sebelumnya terbatas.
04 Feb 2026, 01.21 WIB

Skyryse Raih Rp 5.01 triliun ($300 Juta) untuk Otomasi Penerbangan yang Tingkatkan Keselamatan

Skyryse adalah sebuah startup teknologi yang berbasis di El Segundo, California, yang fokus mengembangkan sistem penerbangan otomatis bernama SkyOS. Sistem ini menggantikan banyak kontrol manual dalam kokpit dengan komputer penerbangan canggih yang membantu pilot dalam mengendalikan pesawat, terutama saat mengambil langkah-langkah penting seperti lepas landas dan mendarat. Tujuan mereka adalah membuat penerbangan menjadi lebih aman dan mudah digunakan, terutama untuk helikopter dan pesawat lainnya. Baru-baru ini, Skyryse berhasil mendapatkan dana lebih dari 300 juta dolar AS dari investor besar, sehingga valuasi perusahaan melonjak menjadi 1,15 miliar dolar AS, sehingga statusnya menjadi unicorn. Grup investor yang terlibat termasuk Autopilot Ventures sebagai pemimpin putaran pendanaan, serta Fidelity Management, Qatar Investment Authority, dan sejumlah firma investasi lainnya yang percaya pada potensi teknologi Skyryse. Teknologi SkyOS kini sudah diterapkan pada helikopter Black Hawk milik militer Amerika Serikat serta digunakan oleh beberapa operator lain seperti United Rotorcraft dan Mitsubishi Corporation. Sistem ini mampu mengotomatisasi tindakan kompleks dan berisiko tinggi dalam penerbangan, seperti hovering dan pendaratan darurat, tetap dengan peran pilot yang aktif mengontrol di balik layar. Skyryse sedang melalui proses sertifikasi ketat dari Federal Aviation Administration (FAA) yang harus mereka lalui untuk memastikan sistem mereka memenuhi standar keselamatan penerbangan. Tahun lalu, mereka berhasil mendapatkan persetujuan desain dari FAA, dan saat ini sedang dalam tahap akhir uji terbang dan verifikasi untuk sertifikasi penuh. Keberhasilan ini sangat penting agar SkyOS bisa digunakan secara luas di industri penerbangan. Dengan dana baru yang diperoleh, Skyryse akan mempercepat integrasi SkyOS ke lebih banyak tipe pesawat. Pengembangan ini sangat menjanjikan bagi masa depan penerbangan, di mana teknologi dapat membantu pilot meningkatkan kemampuan mereka, mengurangi risiko kecelakaan, dan membuka jalan bagi sistem penerbangan yang semakin otomatis dan aman di masa depan.
03 Feb 2026, 03.39 WIB

Breakthrough Ventures: Dana Rp 33.40 miliar ($2 Juta) untuk Startup Mahasiswa di Stanford

Dua mahasiswa Stanford, Roman Scott dan Itbaan Nafi, telah berhasil mengumpulkan dana sebesar 2 juta dolar Amerika untuk program akselerator bernama Breakthrough Ventures yang ditujukan bagi mahasiswa dan lulusan baru di seluruh Amerika Serikat. Program ini bertujuan membantu para pemula bisnis mendapatkan akses modal dan jaringan yang selama ini sulit dijangkau. Breakthrough Ventures diluncurkan setelah mereka sukses mengadakan beberapa Demo Day yang menarik banyak perhatian di Stanford sejak tahun 2024. Program ini bukan hanya bersifat musiman, melainkan akan menjadi kemitraan jangka panjang dengan pendiri startup yang mereka dukung. Peserta program akan mendapatkan akses ke dana hibah hingga 100.000 dolar, kredit komputasi dari Microsoft dan Nvidia Inception, dukungan hukum, kredit perjalanan dari Waymo, serta kesempatan mentorship dari tokoh-tokoh penting seperti CEO Waymo. Di akhir program, ada peluang mendapatkan investasi lanjutan sebesar 50.000 dolar. Model program ini hybrid, dengan pertemuan tatap muka di firma modal ventura hingga acara Demo Day di Stanford. Berbeda dengan program akselerator lain, Breakthrough sepenuhnya dikembangkan oleh mahasiswa untuk mahasiswa, sehingga lebih memahami kebutuhan dan tantangan mereka. Mereka menargetkan untuk menginkubasi minimal 100 perusahaan dalam tiga tahun ke depan dan ingin menjadikan Breakthrough sebagai pusat kewirausahaan generasi Z. Pendaftaran untuk angkatan terbaru program ini telah resmi dibuka dan berharap dapat mendorong banyak mahasiswa untuk berani memulai bisnis demi masa depan yang lebih stabil.