Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Spionase Teknologi dan Pengaruh Politik AS–China Tingkatkan Ketegangan dalam Inovasi

Share

Beberapa laporan mengungkapkan dinamika rumit antara AS dan China yang melibatkan penyusupan teknologi dan pengaruh politik. Insiden seperti kebocoran dari mantan karyawan Google dan pergeseran strategi dalam sektor SaaS AS menunjukkan bahwa persaingan ini tidak hanya berdampak pada pasar teknologi, tetapi juga pada keamanan nasional serta kepercayaan global terhadap ekosistem inovasi.

07 Feb 2026, 16.18 WIB

Bagaimana Alibaba dan Tencent Memimpin Pertumbuhan SaaS di China di Tengah Tantangan AI

Bagaimana Alibaba dan Tencent Memimpin Pertumbuhan SaaS di China di Tengah Tantangan AI
Sektor perangkat lunak di China mengalami keterbatasan karena rendahnya adopsi cloud dan kurangnya minat untuk membayar biaya langganan yang berulang. Kondisi ini membuat pertumbuhan layanan perangkat lunak sebagai layanan (SaaS) tidak secepat yang diharapkan, berbeda dengan pasar di Amerika Serikat yang jauh lebih maju. Kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih membuat pasar saham perangkat lunak global turun drastis. Penurunan ini juga merembet ke sektor SaaS di China, meskipun dinamika pasar di sana berbeda karena sifat pasar China yang didominasi oleh perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan besar seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance diperkirakan akan menjadi pemimpin utama yang mendorong pertumbuhan SaaS di China. Mereka menguasai infrastruktur cloud serta model bahasa besar, yang merupakan teknologi penting untuk mengembangkan layanan SaaS yang kompetitif. Secara keseluruhan, pengeluaran untuk teknologi informasi di China masih relatif kecil, sekitar 3% dari total produk domestik bruto (PDB), berbanding jauh dengan Amerika Serikat yang mencapai sekitar 9%. Ini menunjukkan masih ada ruang besar untuk pengembangan dan pertumbuhan sektor teknologi di China. Perusahaan kecil di China akan semakin tergantung pada dominasi perusahaan raksasa tersebut dalam hal infrastruktur cloud dan teknologi AI. Ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi ekosistem perangkat lunak di China ke depan.
05 Feb 2026, 21.30 WIB

Trump Longgarkan Ekspor Chip Nvidia H200, Perang Teknologi AS-China Memanas

Trump Longgarkan Ekspor Chip Nvidia H200, Perang Teknologi AS-China Memanas
Pemerintahan Trump awalnya membuat kebijakan keras untuk mencegah teknologi chip canggih Nvidia H200 diekspor ke China karena kekhawatiran akan penguatan militer China. Keputusan ini mendapat kritik dari banyak pihak di AS karena ada risiko keamanan nasional. Pada saat yang sama, China tidak mau menerima chip dari AS dan mengimbau perusahaan lokal untuk memakai teknologi dalam negeri demi mengurangi ketergantungan pada AS. Namun, setelah negosiasi dan tarik-ulur, China mulai membuka diri menerima chip H200 untuk perusahaan-perusahaan besar. Beberapa perusahaan besar China seperti ByteDance, Tencent, Alibaba, dan DeepSeek sudah mendapatkan izin awal untuk mengimpor chip tersebut. Meskipun begitu, Nvidia masih bernegosiasi dengan pemerintah AS mengenai persyaratan penggunaannya, khususnya sistem Know-Your-Customer (KYC) yang harus memastikan militer China tidak menggunakan chip ini. Nvidia menjelaskan bahwa persyaratan pemerintah AS harus realistis dan tidak terlalu memberatkan karena jika terlalu ketat, perusahaan AS akan kehilangan pasar penting di China yang bisa beralih ke pemasok asing. Namun, sampai saat berita ini ditulis, persyaratan KYC masih menjadi hambatan utama. Kesepakatan ekspor chip ini merupakan perkembangan terbaru dalam perlombaan teknologi dan persaingan geopolitik antara AS dan China, yang berpotensi memengaruhi dinamika industri chip global dan teknologi kecerdasan buatan di masa depan.
05 Feb 2026, 20.40 WIB

Mantan Engineer Google Terancam 175 Tahun Penjara Karena Curi Rahasia AI

Mantan Engineer Google Terancam 175 Tahun Penjara Karena Curi Rahasia AI
Linwei Ding, mantan engineer Google, dinyatakan bersalah oleh juri federal Amerika Serikat karena mencuri rahasia dagang teknologi kecerdasan buatan (AI) milik Google. Ia dihadapkan pada dakwaan pencurian rahasia dagang dan spionase yang berkaitan dengan teknologi tingkat tinggi Google. Selama bekerja di Google, Ding menyalin dan memindahkan lebih dari 1.000 file internal yang sangat sensitif ke akun cloud pribadi dengan cara tersembunyi agar tidak terdeteksi oleh sistem keamanan perusahaan. Dokumen ini mencakup teknologi chip khusus dan sistem jaringan AI yang menjadi keunggulan Google. Jaksa AS menyatakan bahwa Ding juga memiliki hubungan dengan dua perusahaan teknologi asal China dan menjalankan peran penting di perusahaan tersebut saat masih bekerja di Google. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan nasional dan persaingan teknologi global. Ancaman hukuman bagi Ding mencapai 175 tahun penjara jika seluruh dakwaan dikumulatifkan, dan potensi denda jutaan dolar juga dapat dikenakan. Namun, hakim memutuskan untuk membebaskannya sementara waktu menunggu penjatuhan vonis akhir karena dianggap tidak berisiko melarikan diri. Kasus ini menjadi peringatan serius bagi perusahaan teknologi tentang pentingnya menjaga keamanan data dan mencegah bocornya teknologi canggih ke pihak asing, terutama dari negara yang bersaing langsung dengan Amerika Serikat di bidang inovasi teknologi.

Baca Juga

  • Spionase Teknologi dan Pengaruh Politik AS–China Tingkatkan Ketegangan dalam Inovasi

  • Evolusi Ekosistem Roblox Menuju AI dan Audiens Dewasa

  • Integrasi AI Suara Siap Mendefinisikan Ulang Antarmuka Teknologi Konsumen

  • Evolusi Perangkat Gaming dan Streaming di Tengah Perubahan Industri

  • Merek Smartphone China Mempercepat Integrasi Fitur Premium