TLDR
Kota-kota sekarang dapat mengalami pertumbuhan ekonomi tanpa bergantung pada emisi bahan bakar fosil. Data satelit memberikan wawasan penting tentang polusi udara dan dampaknya terhadap ekonomi. Kebijakan hijau di banyak kota telah terbukti efektif dalam mengurangi emisi sambil tetap meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Studi terbaru menganalisis 2.475 kota besar dari seluruh dunia untuk melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Studi ini menggunakan data satelit untuk mengukur tingkat NO2 sebagai indikator polusi dan membandingkannya dengan data PDB per kapita. Hasilnya menunjukkan bahwa 80% kota dapat meningkatkan ekonomi sambil menurunkan emisi.Pengukuran dilakukan menggunakan data dari satelit Copernicus Sentinel-5P yang mengamati emisi NO2 dari Januari 2019 hingga Desember 2024. NO2 diproduksi dari pembakaran bahan bakar fosil di kendaraan, pembangkit listrik, dan industri. Dari 5.435 kota yang dianalisa, 2.475 kota memenuhi kriteria evaluasi tren sehingga dapat diidentifikasi sebagai kota 'hijau', dengan pengurangan emisi dan peningkatan ekonomi.Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan kebijakan hijau di hampir 2.000 kota telah berhasil mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini membuka peluang bagi kota-kota lain di dunia untuk meniru model ini guna mencapai pembangunan berkelanjutan dan mengatasi tantangan perubahan iklim global.