TLDR
Urbanisasi yang cepat berkontribusi pada hilangnya habitat dan meningkatkan risiko bagi spesies terancam. Hampir 70% spesies terancam di seluruh dunia terpengaruh oleh pengembangan kota di lereng. Perencanaan yang bijak dan konservasi habitat yang tepat sangat penting untuk menjaga biodiversitas di masa depan. Perubahan besar terjadi pada pola pemukiman manusia di seluruh dunia, di mana sekitar 80% populasi kini tinggal di kawasan perkotaan dibandingkan dengan 40% pada tahun 1950. Pertumbuhan populasi memicu ekspansi lahan perkotaan yang berkembang lebih cepat daripada jumlah penduduk, membuat ruang hidup manusia semakin meluas, termasuk ke daerah perbukitan dan pegunungan.Studi baru dari Nature Cities menemukan bahwa antara 2000 dan 2020, daerah perkotaan di perbukitan meningkat lebih dari 11 juta hektar, setara dengan wilayah negara Islandia, dengan Asia dan terutama China memimpin pertumbuhan ini. Ekspansi ini sangat berbahaya karena perbukitan menyimpan sebagian besar habitat alami yang menjadi rumah bagi banyak spesies tanaman dan hewan.Hilang dan terfragmentasinya habitat akibat ekspansi tersebut menyebabkan isolasi spesies dan mempercepat proses erosi tanah. Global, hilangnya habitat ini setara dengan luas negara seperti Lithuania dan memengaruhi berbagai tipe ekosistem seperti hutan, semak, dan lahan basah. Bahkan, lebih dari sepertiga ekspansi urban di daerah perbukitan terjadi di hotspot keanekaragaman hayati yang sangat penting dan rentan.Spesies vertebrata yang terancam punah, termasuk burung dan mamalia, sangat terdampak oleh perkembangan tersebut, dengan sekitar 70% dari 6.700 spesies terancam terpengaruh langsung. Prediksi ke depan menunjukkan bahwa banyak negara dan hotspot keanekaragaman hayati tidak akan memenuhi target perlindungan keanekaragaman hayati jika urbanisasi perbukitan terus berlanjut tanpa strategi pengelolaan yang efektif.Peneliti menyarankan agar pembangunan kota lebih mengutamakan pelestarian habitat penting dengan cara mengatur tata ruang yang bijak seperti penggunaan lahan berkelanjutan, desain kota yang kompak, serta penciptaan zona larangan pembangunan. Peta global risiko urbanisasi perbukitan yang mereka buat dapat menjadi panduan prioritasi langkah perlindungan habitat dan keanekaragaman hayati.