TLDR
Lufthansa dan KLM mengurangi penerbangan karena biaya bahan bakar yang meningkat. Praktik 'fuel tankering' dapat menghemat biaya tetapi berkontribusi pada emisi CO2 yang lebih tinggi. Produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) masih terlalu kecil untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar jet berbasis petroleum. Lufthansa merayakan 100 tahun dengan langkah besar memotong 20.000 penerbangan jarak pendek selama musim panas demi menghemat bahan bakar dan mengoptimalkan jadwal. Maskapai lain seperti KLM dan American Airlines juga melakukan pengurangan penerbangan dan menaikkan biaya bagasi karena tekanan biaya bahan bakar yang tinggi serta kondisi pasar yang berubah.CJEU menolak banding Lufthansa terkait bantuan negara Jerman senilai €6 miliar, menambah tekanan hukum pada maskapai besar Eropa. Selain itu, produksi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) masih sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan, dan maskapai terpaksa mengambil langkah-langkah efisiensi seperti mengurangi penerbangan dan menaikkan biaya untuk mengimbangi kenaikan harga kerosin.Perubahan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan industri, apakah semua penerbangan selama ini memang diperlukan dan bagaimana industri mengatasi tekanan lingkungan yang meningkat. Di masa depan, industri penerbangan harus mencari solusi yang lebih menyeluruh untuk efisiensi dan keberlanjutan, karena SAF dan teknologi hijau saat ini belum cukup besar untuk memenuhi harapan.