Agen ICE Dikerahkan di Bandara AS untuk Atasi Antrean Panjang Selama Shutdown
Teknologi
Keamanan Siber
23 Mar 2026
220 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penempatan agen ICE di bandara memicu kontroversi di kalangan pelancong.
Shutdown pemerintah berdampak signifikan terhadap operasi TSA dan menimbulkan antrian panjang.
Kritik terhadap kebijakan imigrasi saat ini semakin meningkat seiring laporan penyalahgunaan oleh agen.
Pemerintah Trump mengerahkan agen ICE ke beberapa bandara Amerika Serikat mulai hari Senin untuk membantu mengurangi antrean panjang di pos pemeriksaan keamanan akibat shutdown parsial pemerintah. Shutdown yang dimulai pada 14 Februari menyebabkan agen TSA bekerja tanpa gaji sehingga memicu kekurangan personel layanan keamanan bandara.
Agen ICE dilaporkan melakukan setidaknya satu penangkapan di Bandara Internasional San Francisco dan hadir di bandara-bandara lain seperti Atlanta, Newark, dan JFK. Agen menggunakan berbagai teknologi canggih seperti pengenalan wajah dan pelacakan lokasi melalui perangkat untuk mengidentifikasi individu yang menjadi target.
Penempatan agen ICE di bandara ini menuai kritik karena dikhawatirkan meningkatkan ketegangan dengan pelancong dan memperparah situasi keamanan. Selain itu, ada tuntutan dari pihak oposisi untuk reformasi operasional imigrasi menyusul laporan penyalahgunaan kekuasaan oleh agen.
Analisis Ahli
Laura Gómez (Profesor Hukum Imigrasi)
Kehadiran ICE di bandara memperuncing rasa takut dan bisa melanggar hak asasi para pelancong serta mendorong ketegangan yang tak perlu dalam ruang publik yang semestinya aman.Mark Krikorian (Direktur Center for Immigration Studies)
Penempatan ICE di bandara perlu dilihat sebagai langkah strategis untuk meningkatkan penegakan hukum imigrasi terutama pada situasi darurat seperti shutdown pemerintah.

