TLDR
El Nino diprediksi akan menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia. Mitigasi terhadap dampak kekeringan dan curah hujan berlebih sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan dan mencegah bencana. Pemerintah perlu mempersiapkan strategi untuk dua skenario cuaca yang berbeda di berbagai wilayah Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi fenomena El Nino yang kuat akan terjadi mulai April hingga Oktober 2026. Fenomena ini diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berdampak pada pola cuaca di Indonesia dengan musim kemarau yang lebih panjang dan intens.El Nino menyebabkan pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di Samudra Pasifik, sehingga wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan. IOD positif mengindikasikan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa sehingga terjadi pengurangan hujan signifikan terutama di Pantura Jawa dan Nusa Tenggara Timur.Akibatnya, sebagian besar wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur akan mengalami kemarau kering panjang, sementara Sulawesi, Halmahera, dan Maluku mengalami hujan lebat yang dapat menyebabkan banjir dan longsor. Pemerintah diimbau menyiapkan mitigasi untuk menghadapi kekeringan, kebakaran hutan, serta kelebihan curah hujan di wilayah rawan.