TLDR
Serangan ransomware meningkat pesat di tahun 2025, namun pembayaran tebusan mulai menurun. Korban serangan ransomware menunjukkan ketidakberdayaan dalam membayar tebusan karena pengawasan yang lebih ketat. Tindakan internasional berhasil mengurangi pendapatan dari kejahatan siber, meskipun serangan tetap aktif dan bervariasi. Serangan ransomware online pada 2025 mengalami lonjakan hingga 50%, menjadikannya yang paling aktif sepanjang sejarah. Meskipun aktivitas ini meningkat, korban dilaporkan semakin enggan membayar tebusan kepada pelaku. Hal ini menandakan perubahan signifikan dalam perilaku korban serangan siber.Menurut laporan Chainalysis, total pembayaran tebusan tercatat sekitar US$820 juta, turun 8% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, serangan lebih banyak menargetkan usaha kecil dan menengah yang cenderung membayar lebih cepat. Penurunan pembayaran ini juga didukung oleh regulasi dan tindakan internasional yang menghambat aliran dana ke pelaku.Kemunculan varian ransomware seperti Volklocker yang memiliki kelemahan kriptografi memungkinkan beberapa dekripsi gratis. Pergeseran modus operandi kejahatan siber yang lebih terdesentralisasi membuat pelacakan dan penanganan menjadi lebih sulit. Ini menuntut peningkatan respon keamanan siber dan kolaborasi lintas negara.