TLDR
Mineralisasi karbon dapat mengunci CO2 dalam bentuk batuan selama jutaan tahun. Permeabilitas batuan dapat berkurang saat mineral terbentuk, tetapi aliran fluida tetap dapat terjadi. Penelitian ini memberikan wawasan penting untuk merancang sistem penyimpanan karbon yang lebih efisien. Penelitian terbaru dari MIT mengeksplorasi proses mineralisasi karbon di batuan basalt sebagai metode penyimpanan CO2 bawah tanah. Peneliti menyuntikkan cairan ke dalam sampel basalt dan mengamati perubahan yang terjadi menggunakan pemindai X-ray CT. Tujuannya untuk memahami bagaimana struktur batu berubah saat karbon mengendap menjadi mineral.Basalt memiliki banyak pori dan retakan yang memungkinkan aliran cairan serta mengandung unsur seperti besi, kalsium, dan magnesium yang bereaksi dengan CO2 membentuk mineral karbonat seperti kalsit dan dolomit. Studi menunjukkan bahwa mineralisasi terjadi di mikroretakan kecil yang menghambat aliran fluida, tapi volume pori hanya berkurang sedikit sekitar 5 persen. Proyek pilot di Islandia telah membuktikan lebih dari 95 persen CO2 berubah menjadi mineral dalam dua tahun.Hasil penelitian menunjukkan meskipun permeabilitas batu menurun drastis karena penumpukan mineral, aliran fluida masih berlangsung sehingga proses mineralisasi dapat terus berjalan. Temuan ini membuka peluang untuk merancang sistem penyimpanan karbon yang lebih efisien dan aman. Studi ini memberikan wawasan tentang bagaimana batu mengubah sifatnya selama proses mineralisasi, membantu insinyur mengelola penyimpanan karbon di masa depan.