Indonesia Hadapi Masalah Kecanduan Game SMA, Komdigi Luncurkan DARA
Courtesy of CNBCIndonesia

Indonesia Hadapi Masalah Kecanduan Game SMA, Komdigi Luncurkan DARA

Menginformasikan tentang tingginya tingkat kecanduan game di kalangan siswa SMA dan masyarakat Indonesia serta memperkenalkan layanan DARA sebagai solusi konsultasi adiksi game untuk membantu anak-anak yang terdampak.

02 Mar 2026, 09.50 WIB
167 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Adiksi game di kalangan anak sekolah di Indonesia mencapai angka yang mengkhawatirkan.
  • Platform DARA diluncurkan untuk membantu anak-anak yang mengalami kecanduan game.
  • Indonesia menduduki peringkat tinggi dalam penggunaan ponsel dan media sosial dibandingkan negara lain.
Jakarta, Indonesia - Berdasarkan penelitian, sekitar 33 persen siswa SMA di Indonesia mengalami kecanduan game pada tingkat sedang hingga berat. Menteri Komdigi Meutya Hafid menyoroti masalah ini dan menyebutkan bahwa angka kecanduan global lebih rendah dibandingkan Indonesia. Komdigi pun merespons dengan meluncurkan platform DARA yang dirancang untuk membantu anak-anak mendapatkan konsultasi adiksi game secara privat.
Layanan DARA bisa diakses melalui situs resmi dan WhatsApp Indonesia Game Rating System. Data juga menunjukan masyarakat Indonesia menghabiskan 414 miliar jam menggunakan aplikasi ponsel sepanjang 2025, menjadikan Indonesia nomor dua dunia dalam hal durasi penggunaan perangkat. Selain itu, aplikasi media sosial dan short drama sangat populer di Indonesia, menunjukkan kecenderungan tinggi terhadap konsumsi konten digital.
Peluncuran DARA diharapkan memberi ruang bagi anak-anak untuk mencari bantuan tanpa stigma. Program tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengatasi kecanduan game tanpa menghambat perkembangan industri kreatif. Langkah ini penting agar dampak negatif dari penggunaan aplikasi berlebihan dapat diminimalisir dan kesejahteraan mental anak muda lebih terjaga.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260302085514-37-715025/indonesia-nomor-1-masuk-paling-parah-sedunia-ini-bukti-terbarunya

Analisis Ahli

Prof. Dr. Siti Hajar, Psikolog Klinis
"Dukungan konsultasi privat sangat membantu mencegah dampak jangka panjang adiksi game. Namun, perlunya regulasi ketat dan peran aktif keluarga sangat krusial agar intervensi lebih efektif."
Dr. Bambang Prasetyo, Peneliti Teknologi Informasi
"Data penggunaan aplikasi yang tinggi merupakan indikasi kelebihan konsumsi digital. Pengembangan platform konsultasi seperti DARA dapat mengurangi efek buruk jika diintegrasikan dengan edukasi literasi digital."

Analisis Kami

"Penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk melihat adiksi game tidak hanya sebagai masalah hiburan, tapi sebagai isu kesehatan mental yang serius yang perlu penanganan holistik. Inisiatif seperti DARA memang sudah tepat, namun perlu didukung dengan edukasi berkelanjutan agar kesadaran orang tua dan lingkungan sekitar juga meningkat."

Prediksi Kami

Dengan layanan DARA yang terus dikembangkan, di masa depan akan lebih banyak anak dan remaja yang mendapatkan bantuan tepat waktu untuk mengatasi kecanduan game sehingga dampak negatifnya dapat dikurangi secara signifikan.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang dicatat oleh Kementerian Komunikasi dan Digital mengenai adiksi game di kalangan siswa SMA?
A
Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa adiksi game pada siswa SMA mencapai lebih dari 30%, dengan angka spesifik antara 33% hingga 39%.
Q
Apa tujuan dari peluncuran platform DARA?
A
Tujuan dari peluncuran platform DARA adalah untuk membantu anak-anak yang menghadapi masalah adiksi game dengan menyediakan layanan konsultasi dan dukungan.
Q
Bagaimana adiksi game di Indonesia dibandingkan dengan negara lain?
A
Adiksi game di Indonesia tergolong tinggi, dengan negara ini berada di posisi kedua secara global, hanya kalah dari India.
Q
Apa jenis aplikasi yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia?
A
Aplikasi yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia adalah media sosial, dengan TikTok sebagai yang paling populer.
Q
Siapa yang menjadi Menteri Komunikasi dan Digital yang mengungkapkan masalah ini?
A
Menteri Komunikasi dan Digital yang mengungkapkan masalah ini adalah Meutya Hafid.