
Courtesy of CNBCIndonesia
Serangan Ransomware Meningkat, Pembayaran Uang Tebusan Justru Menurun Tahun 2025
Memberikan gambaran kondisi terkini kejahatan ransomware di 2025, termasuk tren kenaikan serangan, perubahan pembayaran uang tebusan, dan upaya pengawasan yang berpengaruh pada penurunan hasil yang didapat pelaku. Informasi ini penting agar pelaku usaha dan regulator memahami dinamika ancaman siber yang terus berkembang.
27 Feb 2026, 19.00 WIB
111 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Serangan ransomware mengalami peningkatan signifikan di tahun 2025.
- Meskipun total pembayaran menurun, banyak klaim publik mencapai rekor tertinggi.
- Peningkatan pengawasan dan regulasi berkontribusi terhadap penurunan pembayaran tebusan.
Jakarta, Indonesia - Pada tahun 2025, serangan ransomware meningkat tajam hingga 50%, menjadikan tahun tersebut sebagai periode paling aktif dalam catatan kejahatan siber terkait ransomware. Banyak usaha kecil dan menengah menjadi target karena mereka cenderung membayar uang tebusan lebih cepat dibanding korporasi besar.
Meski jumlah serangan bertambah, total pembayaran uang tebusan menurun sekitar 8% menjadi lebih dari Rp 13.69 triliun (US$820 juta) atau setara dengan Rp13,7 triliun. Ini menunjukkan semakin banyak korban yang memilih tidak membayar atau dibantu oleh tindakan regulasi dan pengawasan yang lebih efektif.
Persentase pembayaran terhadap jumlah serangan mencapai titik terendahnya yakni hanya 28%. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun serangan meningkat, efisiensi pelaku ransomware dalam mendapatkan uang dari korbannya cenderung menurun.
Laporan Chainalysis mencatat adanya varian ransomware baru seperti Volklocker, yang memiliki kelemahan kriptografi sehingga memungkinkan pengguna melakukan dekripsi gratis di beberapa kasus. Ini menambah tantangan bagi pelaku kejahatan siber untuk mendapatkan keuntungan maksimal.
Selain itu, pergeseran kejahatan siber menjadi lebih terdesentralisasi membuat pelacakan dan penanggulangan jadi lebih rumit. Regulasi internasional yang ketat dan koordinasi antarnegara mulai berhasil membatasi aliran dana ilegal dari ransomware, sehingga penurunan jumlah pembayaran terlihat nyata.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260227154600-37-714596/maling-online-makin-ganas-uang-rp-13-triliun-lenyap-terkuras
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260227154600-37-714596/maling-online-makin-ganas-uang-rp-13-triliun-lenyap-terkuras
Analisis Ahli
Corsin Camichel
"Penyerang ransomware makin bekerja keras namun hasil yang didapat semakin berkurang karena korban dan regulator semakin tanggap."
Analisis Kami
"Meskipun jumlah serangan meningkat drastis, penurunan pembayaran menunjukkan bahwa korban mulai lebih waspada dan dukungan regulasi mulai efektif membatasi bisnis ransomware. Namun, keberadaan varian seperti Volklocker yang bisa didekripsi gratis memberi sinyal bahwa teror ransomware belum selesai dan akan terus berevolusi menjadi makin kompleks."
Prediksi Kami
Serangan ransomware akan terus berkembang dengan metode yang lebih terdesentralisasi dan sulit dilacak, memaksa regulator dan pelaku usaha semakin meningkatkan upaya deteksi dan pencegahan untuk mengurangi kerugian di masa depan.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang terjadi dengan serangan ransomware di tahun 2025?A
Serangan ransomware mengalami peningkatan hingga 50% dan menjadi tahun paling aktif yang pernah tercatat.Q
Berapa total pembayaran yang dilakukan oleh korban serangan ransomware?A
Total pembayaran yang dilakukan oleh korban serangan ransomware mencapai lebih dari US$820 juta.Q
Apa yang menyebabkan penurunan persentase pembayaran tebusan?A
Penurunan persentase pembayaran tebusan disebabkan oleh meningkatnya pengawasan regulasi dan respon terhadap serangan ransomware.Q
Siapa yang lebih sering menjadi korban serangan ransomware menurut eCrime.ch?A
Usaha kecil dan menengah menjadi lebih sering menjadi korban serangan ransomware karena mereka cenderung membayar lebih cepat.Q
Apa dampak dari tindakan internasional terhadap operator ransomware?A
Tindakan internasional berhasil membatasi aliran pendapatan bagi operator ransomware, yang membantu mengurangi frekuensi pembayaran ganti rugi.




