TLDR
Pemerintah AS memberlakukan sanksi terhadap perusahaan yang terlibat dalam perolehan dan penjualan eksploitasi zero-day. Operation Zero diketahui bekerja sama dengan pemerintah Rusia dan terlibat dalam penjualan alat peretasan yang dicuri. Sanksi ini juga terkait dengan penyelidikan terhadap individu yang menjual eksploitasi dari perusahaan pertahanan AS kepada broker Rusia. Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap dua perusahaan dan beberapa individu yang terlibat dalam perdagangan zero-day exploits. Zero-day adalah celah keamanan perangkat lunak yang belum diketahui oleh pembuatnya dan dapat dimanfaatkan untuk melakukan serangan siber. Sanksi ini diberikan karena keberadaan pasar gelap zero-day dapat mengancam keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan ekonomi AS.Salah satu perusahaan yang disanksi adalah Operation Zero, sebuah perusahaan asal Rusia yang didirikan pada 2021. Perusahaan ini diketahui menawarkan hingga 20 juta dolar untuk zero-day pada perangkat Android dan iPhone serta hingga 4 juta dolar untuk celah di aplikasi Telegram. Operation Zero mengaku bekerjasama dengan pemerintah Rusia dan organisasi lokal.Pendiri Operation Zero, Sergey Zelenyuk, juga dikenai sanksi karena dituduh menjual eksploit kepada badan intelijen asing, mengembangkan spyware, dan merekrut peretas melalui media sosial. Selain itu, Operation Zero diduga mencuri alat cyber eksklusif milik pemerintah AS dan sekutunya, lalu menjualnya ke pihak yang tidak berwenang.Sanksi lain diberlakukan pada Special Technology Services, sebuah perusahaan afiliasi yang berbasis di Uni Emirat Arab, serta individu lain yang terkait dengan Operation Zero, termasuk Azizjon Mamashoyev, pendiri Advance Security Solutions yang juga mendapat sanksi karena aktivitas serupa. Advance Security Solutions menawarkan hadiah besar untuk zero-day yang menargetkan berbagai perangkat dan platform.Pengumuman sanksi ini berkaitan dengan kasus FBI terhadap Peter Williams, mantan manajer di perusahaan pertahanan AS L3Harris, yang mengaku bersalah menjual sedikitnya delapan eksploit kepada broker Rusia yang kemudian dikonfirmasi sebagai Operation Zero. Langkah ini menandai upaya AS dalam mengekang peredaran zero-day yang membahayakan keamanan siber global.