AI summary
China telah meluncurkan lebih banyak kapal selam nuklir daripada Amerika Serikat dalam lima tahun terakhir. Produksi kapal selam Amerika Serikat mengalami keterlambatan dan kesulitan. Ekspansi fasilitas di Huludao mendukung peningkatan kemampuan militer China. Dalam lima tahun terakhir, China telah meluncurkan lebih banyak kapal selam bertenaga nuklir dibanding Amerika Serikat, menurut laporan terbaru dari International Institute for Strategic Studies. Antara tahun 2021 hingga 2025, China meluncurkan 10 kapal selam sementara AS hanya 7. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika kekuatan angkatan laut di Pasifik.China melakukan perluasan besar-besaran di galangan kapal Huludao yang menunjang produksi kapal selam nuklir. Kapal selam China termasuk yang mampu membawa misil balistik nuklir sebagai bagian dari kekuatan triad nuklir mereka. Sementara itu, AS menghadapi banyak kendala produksi hingga penundaan jadwal kapal selam baru.Meski jumlah peluncuran kapal selam baru yang lebih banyak, China masih memiliki armada aktif yang lebih kecil dibandingkan AS, yang saat ini mengoperasikan 65 kapal selam nuklir aktif. AS memiliki keunggulan dalam kualitas, teknologi, dan kemampuan kapal selam yang lebih canggih dan senyap.Pembangunan kapal selam baru AS juga bermasalah dengan keterlambatan dan pembengkakan anggaran, seperti pembangunan kapal kelas Columbia yang tertunda hingga 2028. Krisis produksi ini diprediksi dapat menyebabkan penurunan jumlah kapal selam AS yang siap tempur sampai tahun 2030.Masalah ini memicu kekhawatiran akan 'lembah penurunan' dalam kekuatan kapal selam AS, yang dapat membuat mereka menghadapi tekanan operasional yang besar dan mengurangi kemampuan deteren konvensional terhadap ancaman seperti China. Perubahan ini menuntut tindakan cepat dan efektif untuk menjaga keseimbangan strategis.
Pertumbuhan pesat kapal selam nuklir China bukan hanya soal jumlah, tapi juga sinyal kuat bahwa mereka serius menggeser dominasi AS di laut dalam. Namun, kualitas dan keahlian teknologi AS masih menjadi faktor utama yang menjaga status quo, meski tekanan produksi saat ini sangat membahayakan posisi strategis mereka.