AI summary
Sistem tanpa awak Tiongkok menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi militer dan dapat mengubah cara konflik maritim terjadi. Pengembangan sistem ini menunjukkan fokus Tiongkok untuk mengamankan klaim kedaulatannya, terutama terkait Taiwan. Kemampuan baru yang ditampilkan dapat berdampak pada stabilitas keamanan di kawasan Asia-Pasifik dan meningkatkan ketegangan dengan negara lain seperti AS. China telah memperkenalkan sistem bawah laut tanpa awak terbaru yang diklaim memiliki kemampuan manuver luar biasa dengan rotasi nol radius, sehingga dapat beroperasi lancar di kondisi laut yang rumit. Teknologi ini menunjukkan inovasi dalam operasi militer yang mengedepankan kemampuan stealth dengan tingkat kebisingan di bawah 90 desibel untuk menghindari deteksi musuh.Dalam parade militer kemarin, juga diperlihatkan bagaimana sistem ini dapat diselaraskan dengan berbagai senjata seperti rudal yang diluncurkan dari kapal selam, ranjau pintar, dan sistem kendaraan tanpa awak lainnya, yang membentuk jaringan serangan bertingkat. Angkatan Laut China menargetkan penggunaan sistem ini dalam operasi blokade dan serangan massal secara otonom.Salah satu fokus utama adalah AJX002, sebuah sistem tanpa awak yang mampu menebar ranjau di kedalaman laut dan melakukan taktik asimetris dengan daya tahan sangat tinggi. Sistem ini memiliki panjang 59 sampai 65 kaki dan digerakkan oleh pompa jet, mirip dengan torpedo nuklir Rusia Poseidon, meskipun status nuklirnya belum jelas.Teknologi kecerdasan buatan juga dimanfaatkan untuk mengkoordinasikan kapal permukaan tanpa awak dan drone udara, memungkinkan pengambilan keputusan secara otomatis dalam mengidentifikasi target dan mengkalkulasi ancaman. Ini memberikan keunggulan dalam menangani dinamika operasi di lingkungan maritim yang kompleks dan padat.Dengan sistem ini dan ambisi untuk memiliki hingga enam kapal induk pada tahun 2035, China memperkuat posisinya dalam pengamanan klaim wilayah dan kesiapsiagaan menghadapi potensi konflik di sekitar Selat Taiwan. Modernisasi angkatan laut ini merupakan bagian dari strategi luas China untuk memperluas pengaruh dan kekuatan militernya di kawasan Indo-Pasifik.
Pengembangan sistem tanpa awak bawah laut oleh China menunjukkan ambisi besar mereka dalam menguasai wilayah laut dan mengubah paradigma peperangan maritim. Namun, ketergantungan pada AI dan teknologi canggih juga membuka potensi kerentanan jika lawan mampu mengganggu jaringan komunikasi dan kendali mereka.