
Courtesy of CNBCIndonesia
AI Bisa Prediksi Gaji dan Kepribadian dari Wajah, Tapi Ada Risiko Diskriminasi
Menjelaskan bagaimana AI dapat memprediksi kepribadian dan keberhasilan seseorang di pasar kerja berdasarkan wajah, serta implikasi etis dan regulasi dari teknologi ini bagi pengambilan keputusan HRD.
12 Feb 2026, 08.00 WIB
151 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Analisis wajah dapat memberikan prediksi kepribadian dan keberhasilan di pasar tenaga kerja.
- Meskipun hasilnya menjanjikan, penelitian ini tidak menganjurkan penerapan analisis wajah dalam rekrutmen.
- Pentingnya evaluasi akademis terhadap metodologi analisis kepribadian jika ada regulasi di masa depan.
Jakarta, Indonesia - Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat membaca ciri kepribadian seseorang berdasarkan foto wajah mereka dan memprediksi tingkat gaji serta keberhasilan di dunia kerja. Data ini diambil dari foto LinkedIn lebih dari 96 ribu lulusan MBA yang dianalisis menggunakan algoritma.
Peneliti mengelompokkan kepribadian menjadi lima kategori, yaitu keterbukaan, ketelitian, ekstroversi, keramahan, dan neurotisme. Algoritma ini tidak hanya menggunakan asumsi visual dari orang lain, tetapi berdasarkan laporan kepribadian yang disampaikan langsung oleh individu dalam studi tersebut.
Hasil penelitian menyatakan bahwa prediksi kepribadian dari wajah dapat memberikan informasi tambahan yang signifikan untuk memprediksi hasil di pasar tenaga kerja, termasuk gaji dan kemungkinan pindah pekerjaan. Beberapa perusahaan, termasuk di industri perbankan, sudah mulai menguji teknologi ini.
Namun, tim peneliti sangat memperingatkan bahwa penggunaan teknologi ini berpotensi diskriminatif dan tidak dianjurkan dilakukan tanpa aturan yang jelas. Penggunaan foto wajah dan data identitas secara luas berisiko menimbulkan ketidakadilan bagi pelamar kerja.
Marina Niessner dari Universitas Indiana menyarankan bahwa meskipun metode ini belum terbukti sepenuhnya valid, penting untuk terus ada evaluasi akademis serta pembahasan regulasi sebelum teknologi ini diterapkan secara luas dalam dunia kerja.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260212065451-37-710401/gaji-tinggi-atau-rendah-terlihat-dari-wajah-ini-penjelasannya
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260212065451-37-710401/gaji-tinggi-atau-rendah-terlihat-dari-wajah-ini-penjelasannya
Analisis Ahli
Marina Niessner
"Metode ini mungkin tidak valid secara penuh dan tidak dianjurkan untuk digunakan dalam praktik HR, namun penting untuk evaluasi akademis demi mempersiapkan regulasi yang tepat jika teknologi ini akan diadopsi."
Analisis Kami
"Teknologi ini memang menarik karena memanfaatkan data visual yang mudah diakses untuk prediksi pasar kerja, namun secara etis risikonya sangat besar terutama terkait diskriminasi dan pelanggaran privasi. Sebaiknya penelitian dan penerapan teknologi ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan di bawah pengawasan regulasi yang kuat agar tidak merugikan individu."
Prediksi Kami
Di masa depan, penggunaan AI dalam menilai kepribadian dan potensi karyawan melalui analisa wajah mungkin akan berkembang, tetapi akan diiringi dengan regulasi ketat untuk mencegah diskriminasi dan pelanggaran privasi.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa tujuan dari penelitian yang dibahas dalam artikel ini?A
Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis kepribadian seseorang melalui wajah dan memprediksi keberhasilan mereka di pasar tenaga kerja.Q
Bagaimana cara AI digunakan dalam analisis kepribadian dari wajah?A
AI digunakan untuk memprediksi kepribadian berdasarkan fitur wajah yang diekstrak dari foto profil di akun LinkedIn.Q
Apa saja lima kelompok kepribadian yang diidentifikasi dalam penelitian?A
Lima kelompok kepribadian yang diidentifikasi adalah terbuka, teliti, eksroversi, ramah, dan neurotisme.Q
Mengapa para peneliti tidak menganjurkan penggunaan analisis wajah untuk HRD?A
Para peneliti tidak menganjurkan penggunaan analisis wajah karena dapat menjadi kebijakan yang diskriminatif dan tidak valid.Q
Siapa Marina Niessner dan apa perannya dalam penelitian ini?A
Marina Niessner adalah asisten profesor keuangan di Universitas Indiana dan penulis studi yang menekankan pentingnya evaluasi akademis pada metodologi analisis kepribadian.




