Krisis Bursa Kerja 2025: Menghadapi Tantangan AI dan Sulitnya Mendapat Pekerjaan
Bisnis
Ekonomi Makro
10 Sep 2025
292 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Krisis pasar kerja saat ini sangat dipengaruhi oleh penggunaan teknologi AI dalam proses perekrutan.
Banyak pencari kerja, termasuk fresh graduate dan korban PHK, mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan meski telah mengirim banyak lamaran.
Strategi jejaring tradisional masih penting untuk membantu pencari kerja menemukan peluang baru di tengah kesulitan ini.
Saat ini, banyak lulusan baru dan pekerja yang terkena PHK mengalami kesulitan besar dalam mencari pekerjaan. Berbagai faktor seperti ketidakpastian ekonomi dan konflik geopolitik memperparah situasi ini. Teknologi AI yang mulai banyak digunakan dalam proses perekrutan memperumit peluang mendapatkan kerja karena perusahaan menggunakan sistem otomatis untuk menyaring kandidat.
Contohnya Harris, seorang lulusan University of California Davis, yang sudah melamar ke 200 pekerjaan namun selalu ditolak. Ia menggunakan ChatGPT untuk membuat resume yang lebih profesional, tetapi hal itu belum cukup untuk menembus pasar kerja yang sangat kompetitif. Hal sama juga dialami Marine, paralegal dengan pengalaman 10 tahun, yang sering gagal melewati tahap final seleksi meskipun sudah dipanggil ke tahap kedua.
Perusahaan memakai AI tidak hanya untuk menyaring lamaran, tetapi juga menulis deskripsi pekerjaan, menjadwalkan wawancara, bahkan melakukan wawancara menggunakan avatar chatbot. Proses ini membuat para pelamar harus menghadapi algoritma yang menilai kata kunci dan nada bicara mereka, sehingga peluang diterima kerja menjadi semakin kecil terutama jika lamaran tidak sesuai dengan kriteria yang sangat spesifik.
Meski AI terkadang membantu proses seleksi lebih efisien, banyak pelamar merasa frustrasi karena sulit mendapatkan balasan apalagi sampai wawancara langsung. Hal ini mendorong para pencari kerja untuk mengirimkan lebih banyak lamaran dan mengandalkan AI untuk resume dan komunikasi agar sekadar lolos penyaringan awal, yang pada akhirnya menciptakan lingkaran setan pasar kerja yang sangat ketat dan tidak manusiawi.
Sebagai solusi, para ahli menyarankan agar pencari kerja mengandalkan metode tradisional seperti membangun jejaring profesional, mengajak perekrut bertemu langsung, dan menghadiri acara tatap muka. Strategi ini masih relevan dan bisa membuka peluang yang tidak bisa dijangkau lewat sistem otomatis. Namun jika perusahaan tidak mulai memperbanyak rekrutmen, banyak pelamar yang mungkin akan kehilangan harapan dan berhenti mencoba.
Analisis Ahli
Priya Rathod
Platform online dan AI bisa membantu mempercepat proses seleksi bagi aplikasi yang sesuai, namun pencari kerja harus memaksimalkan jaringan tradisional untuk peluang yang lebih baik.

