Terobosan: Sistem Imun dan Otak Terhubung dalam Depresi Atipikal Berat
Sains
Neurosains and Psikologi
06 Feb 2026
265 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Penelitian ini menunjukkan bahwa depresi dapat melibatkan interaksi antara sistem imun dan otak.
Ditemukan biomarker potensial yang dapat membantu dalam diagnosis dan pengobatan depresi atypical.
Pendekatan multimodal dapat membuka jalan untuk perawatan presisi dalam kesehatan mental.
Depresi merupakan gangguan yang sudah lama dikenal, namun diagnosis dan pengobatannya masih banyak tantangan karena tidak ada tanda biologis yang jelas. Para ilmuwan dari KAIST dan Inha University meneliti jenis depresi atipikal yang unik, di mana para pasien menunjukkan gejala tidur dan makan yang berlebihan, serta kadang disertai halusinasi dan gejala psikotik lainnya.
Tim peneliti menggunakan metode multi-omics untuk memeriksa sel darah dan protein plasma pasien, serta menumbuhkan organoid otak dari sel pasien. Mereka menemukan bahwa sistem imun pasien dalam keadaan hiperaktif, dengan peningkatan sel imun bawaan dan penurunan sel imun adaptif, yang berpotensi menyebabkan peradangan dan gangguan di otak.
Selain itu, kadar protein tertentu yang berperan dalam komunikasi saraf seperti DCLK3 dan CALY, serta protein komplemen C5 dalam plasma meningkat signifikan. Protein-protein ini diduga berperan dalam menghubungkan proses imun dan fungsi otak yang terkait dengan mood dan stres.
Organoid otak yang dibuat dari pasien tumbuh lebih lambat dan menunjukkan pola perkembangan neurol yang terganggu. Ketika diberikan hormon stres dexamethasone, organoid pasien menunjukkan perubahan genetik lebih dramatis, mengindikasikan kerentanan yang lebih tinggi terhadap stres di tingkat seluler.
Penemuan ini membuka peluang baru dalam pengobatan presisi untuk depresi, dengan harapan bahwa protein-protein yang ditemukan dapat digunakan sebagai biomarker untuk diagnosis lebih akurat dan pengembangan terapi yang lebih efektif di masa depan.
Analisis Ahli
Jinju Han
Penelitian ini menandai kemajuan penting dalam psikiatri presisi dengan mengintegrasikan data imun dan neural, memungkinkan identifikasi biomarker spesifik yang mendukung pengembangan terapi baru.
