Elon Musk Siap Bangun Jaringan Pusat Data AI di Luar Angkasa Tahun 2028
Teknologi
Kecerdasan Buatan
06 Feb 2026
215 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
SpaceX dan xAI berencana mengembangkan pusat data di luar angkasa.
Panel surya di luar angkasa dapat menghasilkan lebih banyak energi, menjadikan pusat data orbital lebih ekonomis.
Musk memprediksi bahwa dalam waktu dekat, pusat data AI di luar angkasa akan melampaui yang ada di Bumi.
Elon Musk dan perusahaannya SpaceX baru-baru ini mengajukan rencana besar kepada FCC untuk membangun jaringan pusat data AI dengan kapasitas hingga satu juta satelit di luar angkasa. Hal ini menandai langkah serius menggabungkan teknologi luar angkasa dan kecerdasan buatan dalam satu infrastruktur yang revolusioner.
Pada hari Senin, SpaceX dan xAI, perusahaan AI milik Musk, secara resmi merger, memperkuat sinergi dalam rencana membangun pusat data di orbit. FCC juga sudah menerima berkas pengajuan dan membuka kesempatan untuk komentar publik, menandakan proyek ini mulai memasuki tahap formal.
Musk menyatakan bahwa energi matahari di luar angkasa jauh lebih kuat, sekitar lima kali lipat dibanding di darat, sehingga menghasilkan penghematan biaya utama dalam pengoperasian pusat data. Namun, argumen ini masih disertai pertanyaan mengenai bagaimana biaya lain dan pemeliharaan perangkat keras akan dikelola.
Patrick Collison dan Dwarkesh Patel di podcastnya membahas potensi dan tantangan proyek ini, termasuk keraguan soal bagaimana mengganti atau memperbaiki GPU yang mungkin mengalami kerusakan selama proses pelatihan AI di luar angkasa. Meski begitu, Musk tetap optimis dan memprediksi bahwa 2028 menjadi titik di mana pusat data AI di orbit lebih ekonomis dibanding di bumi.
Jika rencana ini berhasil, akan terjadi pergeseran besar dalam cara komputasi AI dikelola secara global, dengan SpaceX yang memiliki peran utama berkat kemampuan peluncuran roketnya. Ini bisa menjadi awal era baru yang menggabungkan investasi teknologi luar angkasa dan kecerdasan buatan secara masif.
Analisis Ahli
Dwarkesh Patel
Mengakui keunggulan energi di ruang angkasa, namun mengingatkan tentang masalah operasional seperti sulitnya servis GPU yang rusak selama pelatihan AI berlangsung, sehingga ada risiko teknis yang signifikan.
