
Courtesy of CNBCIndonesia
Penelitian Ungkap Tahun 2023 Jadi Periode Terpanas 2.000 Tahun Terakhir
Memberikan informasi tentang tingkat pemanasan global yang sangat tinggi pada tahun 2023 berdasarkan penelitian lingkaran pohon dan mendorong pentingnya pengurangan emisi gas rumah kaca untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah.
23 Jan 2026, 19.40 WIB
215 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Tahun 2023 merupakan tahun terpanas dalam 2.000 tahun terakhir.
- Pemanasan global yang terjadi saat ini dipicu oleh gas rumah kaca dan fenomena El Nino.
- Perjanjian Paris mungkin perlu dievaluasi ulang karena data terbaru menunjukkan peningkatan suhu yang lebih signifikan.
Jakarta, Indonesia - Para peneliti dari University of Cambridge menggunakan lingkaran pohon sebagai alat untuk mengukur kondisi iklim masa lalu dan menemukan bahwa tahun 2023 adalah tahun paling panas dalam dua ribu tahun terakhir. Lingkaran pohon yang menunjukkan pertumbuhan kurang optimal pada masa-masa kering dan panas ekstrem menjadi indikator penting dalam penelitian ini.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa suhu musim panas tahun 2023 bahkan lebih panas dibandingkan dengan periode awal Revolusi Industri, yaitu antara tahun 1850 hingga 1900. Kenaikan suhu musim panas 2023 tercatat 2,07 derajat Celcius lebih tinggi dibandingkan dengan periode tersebut.
Penelitian ini juga memperlihatkan adanya perbedaan antara data yang digunakan dalam Perjanjian Paris 2015 dengan data penelitian sebenarnya. Perjanjian Paris mengasumsikan kenaikan suhu di tahun 2023 hanya sebesar 1,52 derajat Celcius, namun data ilmiah mencatat kenaikan sebesar 2,2 derajat Celcius.
Salah satu faktor utama yang memperparah pemanasan global tahun ini adalah peningkatan gas rumah kaca yang disebabkan oleh aktivitas manusia serta fenomena alam El Nino yang meningkatkan suhu secara signifikan. Gabungan kedua faktor ini menyebabkan gelombang panas dan kekeringan yang berkepanjangan di berbagai daerah di dunia.
Para ahli mengingatkan pentingnya upaya segera dalam mengurangi emisi gas rumah kaca agar tren pemanasan global dapat diperlambat. Tanpa tindakan cepat, kondisi iklim yang ekstrem akan semakin sering terjadi dan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia dan ekosistem.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260123162714-37-704828/peneliti-temukan-jadwal-kiamat-dari-sebatang-pohon
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260123162714-37-704828/peneliti-temukan-jadwal-kiamat-dari-sebatang-pohon
Analisis Ahli
Ulf Buntgen
"Pemanasan global di tahun 2023 sangat luar biasa dan tren ini akan terus berlanjut jika emisi gas rumah kaca tidak dikurangi secara signifikan."
Jan Esper
"Pemanasan tahun 2023 disebabkan oleh gas rumah kaca dan diperparah oleh El Nino, sehingga penting untuk segera mengurangi emisi agar gelombang panas dan kekeringan dapat dikendalikan."
Analisis Kami
"Penelitian menggunakan lingkaran pohon merupakan metode yang kuat untuk merekonstruksi sejarah iklim dengan akurat, menunjukkan betapa seriusnya krisis pemanasan global saat ini. Namun, data ini harus menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat, bahwa mitigasi perubahan iklim bukan lagi pilihan tapi keharusan demi kelangsungan hidup bumi."
Prediksi Kami
Jika emisi gas rumah kaca tidak dikurangi secara drastis, suhu global akan terus meningkat dan menyebabkan perubahan iklim yang semakin ekstrem dengan lebih banyak gelombang panas dan kekeringan yang berkepanjangan.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang ditemukan oleh Ulf Buntgen terkait pemanasan global?A
Ulf Buntgen menemukan bahwa tahun 2023 merupakan periode paling panas dalam 2.000 tahun terakhir.Q
Mengapa tahun 2023 dianggap sebagai tahun terpanas?A
Tahun 2023 dianggap sebagai tahun terpanas karena kenaikan suhu yang signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.Q
Apa perbedaan suhu yang ditemukan antara tahun 2023 dan periode sebelumnya?A
Tahun 2023 lebih panas 2,07 derajat Celcius dibandingkan dengan tahun 1850 hingga 1900.Q
Apa dampak dari gas rumah kaca dan El Nino pada iklim?A
Gas rumah kaca dan fenomena El Nino menyebabkan gelombang panas dan periode kekeringan yang lebih panjang.Q
Mengapa target Perjanjian Paris mungkin tidak akurat?A
Target Perjanjian Paris mungkin tidak akurat karena data terbaru menunjukkan suhu lebih tinggi dari yang diperkirakan.




