Trump Izinkan Ekspor Chip AI Canggih ke China, Dampaknya Apa?
Teknologi
Kecerdasan Buatan
15 Jan 2026
281 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Keputusan Trump untuk mengizinkan ekspor chip H200 ke China menunjukkan perubahan kebijakan yang signifikan dalam hubungan AS-China.
China sedang berupaya meningkatkan pengembangan teknologi domestik untuk mengurangi ketergantungan pada produk AS.
Kebijakan ekspor chip ini dapat mempengaruhi keseimbangan kekuatan teknologi dan militer antara AS dan China.
Presiden Donald Trump membuat keputusan kontroversial pada akhir 2025 dengan mengizinkan ekspor chip AI canggih H200 buatan Nvidia ke China. Sebelumnya, AS melarang ekspor chip AI canggih ke China demi mencegah pengembangan teknologi militer dan industri China yang pesat. Kebijakan protektif itu berlaku sejak era Joe Biden dan tetap dilanjutkan oleh Trump sampai akhirnya berubah setelah negosiasi dari Nvidia dan pertemuan diplomatik antara AS dan China.
Chip H200 ini merupakan produk Nvidia yang sangat canggih untuk AI, berada satu generasi di belakang chip Blackwell. Permintaan terhadap chip ini dari perusahaan teknologi China sangat tinggi, bahkan pesanan melebihi stok Nvidia sebanyak 700.000 unit. Harga chip ini sekitar Rp 45.09 juta (US$2,700) atau Rp45 jutaan per unit, menunjukkan betapa strategis dan berharganya teknologi ini bagi pengembangan kecerdasan buatan di China.
Meskipun Trump membuka akses chip H200 ke China, pemerintah China justru melarang chip Nvidia masuk ke negara tersebut. Pemerintah China juga memerintahkan perusahaan lokal dan pusat data milik pemerintah untuk menghentikan penggunaan chip AS kecuali bila sangat diperlukan dan hanya untuk riset dan pengembangan (R&D). Selain itu, insentif juga diberikan bagi yang menggunakan chip lokal seperti buatan Huawei, untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Beijing untuk menekan Washington dalam negosiasi perdagangan dan teknologi menjelang kunjungan Trump ke Beijing pada April 2026. China ingin mendapatkan lebih banyak konsesi, sementara AS juga mendapatkan keuntungan dari pungutan ekspor sebesar 25% dari penjualan chip ke China. Situasi ini menunjukkan bahwa kedua negara ekonomi terbesar di dunia berupaya mencari keseimbangan antara persaingan teknologi dan kerja sama ekonomi.
Di sisi lain, kebijakan ini membuat Nvidia dan pemerintah AS mendapatkan keuntungan finansial yang besar, tetapi juga menimbulkan risiko keamanan jika teknologi canggih ini digunakan oleh China untuk pengembangan militer atau teknologi strategis lainnya. Ke depan, persaingan teknologi dan politik antara AS dan China dalam bidang chip AI diperkirakan akan semakin kompleks dan strategis.
Analisis Ahli
Reva Goujon
Beijing tengah berusaha mendapatkan konsesi lebih besar dalam perundingan teknologi dengan AS agar bisa melemahkan dominasi teknologi Amerika.