
Courtesy of Forbes
Perbedaan Antara Memahami dan Menunjukkan Keterbukaan Emosional dalam Hubungan
Menjelaskan bahwa keterbukaan emosional sejati bukan hanya soal memahami istilah atau konsep emosi, melainkan kemampuan untuk merespons emosi secara nyata dan hadir dalam momen-momen sulit dalam hubungan, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kepuasan hubungan tersebut.
15 Jan 2026, 05.30 WIB
62 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Ketersediaan emosional lebih tentang tindakan daripada pengetahuan.
- Respon yang sesuai terhadap emosi pasangan sangat penting untuk menjaga kepuasan dalam hubungan.
- Kerentanan adalah pengalaman hidup yang membutuhkan keberanian untuk menghadapi ketidaknyamanan.
Keterbukaan emosional sering dibahas dalam konteks hubungan modern dengan kata-kata seperti kerentanan dan empati. Meski banyak yang percaya mereka sudah sangat terbuka secara emosional, kenyataannya mereka kadang gagal menunjukkan keterbukaan tersebut saat dibutuhkan, terutama saat menghadapi emosi berat atau tidak nyaman dari pasangan mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa bukan seberapa banyak kita paham soal emosi, tapi bagaimana kita mampu merespons emosi tersebut dalam waktu nyata yang menentukan seberapa emosional kita benar-benar tersedia. Jika saat pasangan berbagi kita justru menanggapi dengan solusi atau meminimalkan perasaan mereka, maka kita tidak sepenuhnya hadir secara emosional.
Studi tahun 2020 mengungkap, respons emosional yang terlalu kaku atau tidak stabil membuat pasangan merasa kurang diperhatikan dan responsif. Hal ini berakibat pada menurunnya kepuasan hubungan dalam jangka panjang, karena pasangan merasa tidak mendapatkan dukungan emosional yang dibutuhkan.
Orang dengan pola keterikatan insecure, seperti yang ditemukan dalam studi tahun 2019, cenderung menggunakan strategi pengaturan emosi yang merusak koneksi emosional. Misalnya, mereka yang menghindar akan menekan perasaan, sedangkan mereka yang cemas sering kesulitan mengatur respon interpersonal secara fleksibel bahkan saat pasangannya hadir secara emosional.
Intinya, keterbukaan emosional yang sejati melibatkan keberanian untuk mengalami ketidaknyamanan dan risiko terlihat tidak sempurna di depan pasangan. Jika kita hanya berbicara soal keterbukaan tanpa mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh, hubungan kita tidak akan mencapai tingkat kedekatan dan kepuasan yang optimal.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/01/14/2-signs-youre-emotionally-available-only-in-theory-by-a-psychologist/
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/01/14/2-signs-youre-emotionally-available-only-in-theory-by-a-psychologist/
Analisis Ahli
Dr. Sue Johnson
"Keterbukaan emosional adalah kunci utama bagi ikatan pasangan yang kuat, dan respons emosional yang tidak memadai dapat menggoyahkan rasa aman dalam hubungan."
Dr. John Gottman
"Perilaku regulasi emosi yang konsisten dan responsif dapat memprediksi keberhasilan dan kebahagiaan hubungan jangka panjang."
Analisis Kami
"Banyak orang masih terjebak dalam gagasan bahwa hanya dengan bisa berbicara soal perasaan sudah menunjukkan keterbukaan emosional, padahal yang terpenting adalah bagaimana mereka benar-benar menanggapi emosi di saat itu. Dalam praktiknya, kemampuan mengatur emosi di momen nyata jauh lebih berpengaruh untuk membangun hubungan yang sehat dan memuaskan."
Prediksi Kami
Jika konsepsi dan praktik keterbukaan emosional tidak diperbaiki, banyak hubungan akan mengalami penurunan kepuasan yang berujung pada ketidakstabilan atau perpisahan di masa depan.





