AI summary
Indonesia memiliki potensi bahaya gempa yang lebih tinggi dengan penambahan zona megathrust. Pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi menggunakan teknologi GNSS untuk mitigasi bencana. Fenomena 'slow slip event' dapat menjadi indikator awal terjadinya gempa besar di masa depan. Indonesia baru saja memperbarui Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2024 yang menunjukkan peningkatan risiko gempa besar. Peta ini menambahkan jumlah zona megathrust menjadi 14, yang berarti potensi gempa akibat pergerakan lempeng tektonik bertambah dan bahaya gempa menjadi lebih tinggi.Profesor Kosuke Heki dari Jepang mengamati bahwa karakter geologi Indonesia mirip dengan zona megathrust aktif di Jepang. Menurutnya, meski sulit memprediksi kapan gempa besar terjadi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang dengan teknologi modern seperti GNSS sangatlah penting.Fenomena pergeseran lambat atau slow slip event yang sering muncul sebelum gempa besar juga diamati sebagai indikator potensi gempa berikutnya. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pemantauan yang canggih, memanfaatkan teknologi yang telah teruji di Jepang.Zona megathrust Aceh-Andaman diperkirakan bisa memicu gempa hingga magnitudo 9,2 dan zona Jawa hingga 9,1. Selain itu, BMKG juga menyoroti dua zona seismic gap yang belum melepaskan energi besar dalam ratusan tahun, yaitu Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, yang berisiko menyimpan energi gempa besar.Namun BMKG menegaskan bahwa istilah "menunggu waktu" bukan berarti gempa akan terjadi segera, melainkan energi gempa yang terus terakumulasi. Penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan pengembangan sistem pemantauan guna mengurangi risiko bencana gempa.
Indonesia kini berada di persimpangan penting dimana pemahaman dan teknologi pemantauan harus ditingkatkan demi keselamatan masyarakat luas. Tanpa penguatan sistem pemantauan dan kesiapsiagaan yang matang, potensi bencana gempa besar bisa menjadi ancaman serius yang sulit dikendalikan.