TLDR
Nvidia telah menyepakati akuisisi aset Groq senilai US$20 miliar untuk memperkuat posisinya di pasar AI. Groq akan tetap beroperasi sebagai perusahaan independen meskipun beberapa eksekutifnya bergabung dengan Nvidia. Transaksi ini menunjukkan agresivitas Nvidia dalam memperluas ekosistem teknologi AI dan merekrut talenta terbaik di bidang tersebut. Nvidia, perusahaan chip teknologi ternama dari Amerika Serikat, sedang merencanakan pembelian aset startup semikonduktor kecerdasan buatan Groq dengan nilai mencapai US$20 miliar. Jika transaksi ini berhasil, ini akan menjadi akuisisi terbesar yang pernah dilakukan oleh Nvidia. Namun, Nvidia hanya akan membeli aset dari Groq, bukan mengakuisisi seluruh perusahaannya.Menurut pernyataan dari CEO Disruptive, Alex Davis, bisnis cloud Groq tidak termasuk dalam kesepakatan ini dan layanan GroqCloud akan tetap berjalan tanpa gangguan. Beberapa eksekutif senior Groq, termasuk pendiri dan CEO Jonathan Ross, akan bergabung dengan Nvidia untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut, sementara Groq tetap beroperasi mandiri dengan CEO baru Simon Edwards.Kesepakatan ini juga melibatkan lisensi non-eksklusif terhadap teknologi inferensi milik Groq yang merupakan chip prosesor dengan latensi rendah untuk kebutuhan inferensi AI dan beban kerja real-time. Nvidia berencana untuk mengintegrasikan teknologi tersebut dalam sistem AI yang sudah mereka kembangkan, memperkuat posisi mereka di pasar chip AI yang sedang berkembang pesat.Nvidia selama tahun 2023 menunjukkan performa keuangan yang kuat dengan kas dan investasi jangka pendek sebesar US$60,6 miliar, memberinya ruang besar untuk investasi dan ekspansi. Selain akuisisi aset Groq, Nvidia juga aktif melakukan berbagai investasi strategis di startup AI dan infrastruktur AI lainnya guna mendukung ekosistem AI mereka.Startup Groq sendiri didirikan oleh mantan insinyur Google dan dikenal sebagai salah satu pencipta Tensor Processing Unit. Groq cukup menonjol di tengah ledakan pasar chip AI bersama dengan perusahaan lain seperti Cerebras, yang sempat berencana IPO namun batal. Kedua perusahaan ini terus bersaing dalam mengembangkan teknologi chip khusus untuk aplikasi AI generatif.