TLDR
Jakarta memiliki potensi bahaya gempa yang perlu diwaspadai. Penelitian seismik dan pemantauan deformasi kerak sangat penting untuk mitigasi bencana. Kesiapsiagaan dan budaya mitigasi gempa harus ditingkatkan di masyarakat. Jakarta, meskipun dikenal sebagai kota metropolitan yang besar dan maju, ternyata masih memiliki potensi risiko gempa bumi yang tidak boleh diabaikan. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Associate Professor Endra Gunawan dari ITB mengungkapkan adanya gerakan sesar aktif di bagian selatan Jakarta menggunakan teknologi GNSS. Gerakan ini menunjukkan bahwa kerak bumi di wilayah Jakarta mengalami deformasi dengan laju sekitar tiga milimeter per tahun.Penelitian lebih luas juga mengungkap bahwa Sesar Baribis-Kendeng yang melintasi beberapa kota di Jawa Barat seperti Cirebon, Indramayu, dan Bekasi termasuk di dekat Jakarta, merupakan sebuah sistem sesar besar yang disebut Java Back-arc Thrust. Sesuai catatan geologi dan seismologi, sesar ini pernah aktif dan mendukung adanya potensi gempa di wilayah barat Jawa hingga Jakarta dan Bogor.Catatan sejarah menunjukkan bahwa Jakarta pernah mengalami beberapa kali gempa besar pada tahun 1699, 1780, 1834, dan 1903 yang menyebabkan kerusakan signifikan. Hal ini memperlihatkan bahwa aktivitas tektonik bisa menghasilkan peristiwa gempa yang berdampak luas, sehingga tetap relevan untuk selalu memantau dan berhati-hati.Indonesia sendiri memiliki posisi geografis yang sangat rawan gempa karena berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dunia. Dengan 13 segmen zona subduksi dan lebih dari 295 sesar aktif, rata-rata 30 ribu gempa terjadi setiap tahun di wilayah Indonesia. Ini membuktikan bahwa mitigasi bencana dan kesiapsiagaan harus terus dilakukan agar risiko kerusakan dapat diminimalkan.Penting bagi pemerintah dan masyarakat Jakarta untuk menjadikan hasil riset ini sebagai pemicu penguatan sistem pemantauan gempa dan kebijakan mitigasi bencana. Mitigasi modern yang berbasis data deformasi kerak akan sangat membantu dalam mengantisipasi dan mengurangi risiko bencana gempa, apalagi di kota besar dengan populasi padat seperti Jakarta.