TLDR
Peluncuran ChatGPT oleh OpenAI memicu respons cepat dari industri teknologi China. Perusahaan-perusahaan di China berfokus pada pengembangan model AI untuk bersaing dengan penyedia Barat. Perubahan sikap terhadap investasi dalam teknologi LLM menunjukkan harapan baru bagi perusahaan-perusahaan AI China. Peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada tanggal 30 November tiga tahun lalu menjadi momentum penting yang memicu geliat perkembangan kecerdasan buatan di China. Pemerintah setempat langsung bergerak cepat dengan mengundang para ahli dari universitas ternama untuk menjelaskan dampak teknologi generatif AI, sebagai bagian dari upaya memahami dan mengantisipasi perubahan yang cepat di bidang teknologi ini.Perusahaan teknologi besar dan startup di China kemudian berlomba mengembangkan versi AI chatbot dan model bahasa besar (LLM) yang bisa bersaing dengan produk Barat. Selain itu, mereka juga diwajibkan untuk mendaftarkan produk AI mereka agar agar layanan dari Amerika tidak menguasai pasar internet domestik yang sangat besar di China.Strategi awal pemerintah dan pelaku industri adalah menjaga wilayah layanan AI dalam 'walled garden'—artinya membatasi akses layanan asing sambil membangun produk lokal yang dapat bersaing secara efektif. Namun, pada masa itu, banyak investor ragu membiayai startup AI karena belum terlihat cara yang jelas untuk menghasilkan keuntungan dari pengembangan LLM tersebut.Salah satu investor ternama, Allen Zhu Xiaohu, bahkan secara terbuka mengekspresikan ketidakminatannya untuk mendanai startup AI karena kesulitan monetisasi dan data yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi ini. Ia mempertanyakan bagaimana bisnis berbasis LLM bisa bertahan tanpa model pendapatan yang jelas.Namun pada paruh kedua tahun 2025, sikap dan ekspektasi mulai berubah. Kemampuan teknis perusahaan AI China naik signifikan, dan ada optimisme baru tentang potensi bisnis LLM yang mulai menunjukkan prospek cerah. Ini menandai fase baru dalam persaingan global di bidang artificial intelligence.