Harbolnas 2025 Siap Dongkrak Ekonomi Pasca Bencana dengan Target Rp 35 Triliun
Bisnis
Ekonomi Makro
09 Des 2025
212 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Harbolnas 2025 diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan membantu korban bencana.
Kerja sama dengan perusahaan logistik sangat penting untuk memastikan pengiriman produk.
Promo yang ditawarkan selama Harbolnas dapat mendorong penjualan produk lokal.
Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) akan digelar pada tanggal 10 sampai 16 Desember 2025. Acara ini digelar tidak lama setelah terjadi bencana banjir dan longsor di beberapa daerah di Sumatra pada akhir November 2025. Bencana ini membuat beberapa wilayah mengalami dampak serius, terutama dalam hal distribusi barang.
Ketua Umum Asosiasi Ecommerce Indonesia, Hilmi Adrianto, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya terus berusaha berkoordinasi dengan perusahaan logistik untuk mengatur pengiriman barang selama Harbolnas. Mereka memperhatikan situasi di lapangan, sebab beberapa area masih sulit dijangkau akibat bencana tersebut.
Meskipun belum ada skema pengiriman khusus yang diterapkan, idEA bertekad agar barang pesanan bisa sampai ke pelanggan, termasuk di wilayah yang terdampak. Hal ini penting agar harapan transaksi meningkat selama Harbolnas tetap terwujud.
Target transaksi tahun ini mencapai Rp 35 triliun, dengan banyak promo yang fokus pada produk lokal. Selain itu, masyarakat juga diajak berbelanja sambil membantu korban bencana melalui program yang disediakan selama Harbolnas.
Diharapkan Harbolnas 2025 tidak hanya meningkatkan transaksi e-commerce tetapi juga menjadi momentum pemulihan ekonomi bagi UMKM dan pelaku usaha lokal yang terdampak bencana. Diskusi dan koordinasi terus dilakukan untuk memastikan keberhasilan acara ini dalam situasi yang menantang.
Analisis Ahli
Guru Ekonomi Digital
Momen Harbolnas bisa menjadi salah satu solusi efektif untuk merangsang kembali ekonomi digital di daerah pascabencana, namun integrasi sistem logistik yang tangguh mutlak dibutuhkan agar distribusi bisa optimal.Pengamat Logistik
Kondisi medan dan infrastruktur yang rusak menjadi tantangan terbesar, sehingga inovasi skema pengiriman khusus reguler harus segera dikembangkan untuk mengatasi hambatan ini.
