TLDR
AI tidak seburuk aktivitas digital lainnya dalam hal emisi CO2. Transisi ke energi terbarukan dapat signifikan mengurangi jejak karbon dari teknologi. Perusahaan besar seperti Apple dan Google berkomitmen untuk mengembangkan solusi yang lebih efisien dalam penggunaan energi. Penggunaan AI dan pusat data terus meningkat pesat, yang menyebabkan konsumsi listrik dan emisi karbon naik signifikan. Banyak orang mengkhawatirkan dampak lingkungan dari AI, namun kenyataannya aktivitas digital lain seperti menonton Netflix atau menggunakan Zoom juga mengonsumsi energi lebih besar.Menurut laporan, menonton Netflix selama satu jam bisa menghasilkan 42 gram CO2 dan menggunakan 0,12 kWh listrik, yang jauh lebih banyak dibandingkan menggunakan AI untuk mengirim beberapa prompt teks yang relatif efisien. Aktivitas digital lain seperti konferensi video dengan Zoom pun masih lebih hemat energi daripada streaming video.Konsumsi listrik global dari pusat data, AI, dan crypto pada tahun 2022 mencapai sekitar 460 terawatt jam, dan diperkirakan akan naik lebih dari 1.000 terawatt jam pada 2026. Di Amerika Serikat sendiri, data center sudah memakan sekitar 4,4% dari konsumsi listrik nasional di 2023 dan akan bertambah sampai 12% pada tahun 2028.Meski demikian, masalah utama bukanlah penggunaan teknologi, melainkan sumber energi yang digunakan. Saat ini hanya sekitar 30% energi pusat data berasal dari sumber terbarukan. Jika persentase ini bisa ditingkatkan menjadi 80-90%, jejak karbon dari penggunaan digital bisa dipangkas lebih dari setengah tanpa perlu mengubah perilaku pengguna.Beberapa perusahaan besar teknologi, seperti Apple dan Google, sudah mulai menggunakan energi terbarukan dan mengembangkan perangkat keras yang lebih hemat energi. Dengan langkah ini, diharapkan perkembangan AI dan kegiatan digital tetap dapat berlangsung tanpa memperburuk krisis iklim.