29 Pulau di Kepulauan Seribu Terancam Tenggelam Akibat Perubahan Iklim
Sains
Iklim dan Lingkungan
21 Sep 2025
108 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Perubahan iklim menyebabkan ancaman serius bagi pulau-pulau di Kepulauan Seribu.
Kenaikan suhu global dan permukaan laut berpotensi meningkatkan risiko bencana bagi masyarakat.
Aksi nyata seperti penanaman mangrove dan sistem peringatan dini sangat penting untuk mitigasi dampak perubahan iklim.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan bahwa sebanyak 29 pulau kecil di Kepulauan Seribu berpotensi tenggelam akibat naiknya permukaan air laut yang dipicu oleh perubahan iklim. Ketinggian pulau-pulau ini hanya sekitar 2,4 meter di atas permukaan laut, sehingga kenaikan air laut antara 3 sampai 5 meter menjadi ancaman serius bagi keberadaan mereka.
Jika pulau-pulau ini benar-benar hilang, sekitar 16.500 penduduk yang tinggal di sana akan terdampak besar. Selain itu, tanah di pulau-pulau yang tersisa akan semakin menyempit sementara jumlah penduduk terus bertambah. Penduduk setempat mencoba melakukan reklamasi pantai secara mandiri untuk memperluas wilayah daratan guna mengurangi dampak negatif tersebut.
Dampak dari perubahan iklim tidak hanya mengancam keberadaan pulau, tetapi juga kesehatan penduduk akibat kenaikan suhu global yang bisa mencapai 2,2 derajat Celsius. Tahun 2024 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah dengan suhu rata-rata global naik melewati ambang batas 1,5°C dibandingkan masa pra-industri.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa perubahan iklim adalah kenyataan yang harus dihadapi semua pihak. Mereka mengingatkan bahwa perubahan ini bukan ancaman di masa depan, melainkan sudah terjadi saat ini dan meningkatkan frekuensi bencana seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan di Indonesia.
Para peneliti dan ahli menekankan pentingnya tindakan nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim, termasuk penerapan sistem peringatan dini dan penanaman mangrove sebagai pertahanan alami. Keterlibatan semua pihak wajib agar kerusakan lingkungan dan risiko kesehatan terhadap penduduk bisa diminimalkan di masa depan.
Analisis Ahli
Martiwi Diah Setiawati
Menyoroti pentingnya penanaman mangrove sebagai benteng alami untuk melindungi pulau-pulau dari erosi dan naiknya permukaan laut.Dwikorita Karnawati
Menegaskan bahwa perubahan iklim adalah kenyataan ilmiah yang sudah terjadi dan harus dihadapi bersama dengan upaya mitigasi yang serius.

