TLDR
Vietnam mulai menjalin kerja sama lebih erat dengan China meskipun ada kekhawatiran dari AS. Kontrak 5G yang dimenangkan oleh perusahaan China menunjukkan perubahan dinamika politik di Asia Tenggara. Hubungan antara Vietnam dan AS terpengaruh oleh kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh pemerintah AS. Vietnam selama ini enggan memakai teknologi China dalam infrastruktur penting karena khawatir akan keamanan dan pengaruh politik Beijing. Namun, situasi berubah setelah kebijakan tarif impor dari AS yang merugikan ekonomi Vietnam, memaksa negara itu membuka peluang kerja sama dengan perusahaan China seperti Huawei dan ZTE.Meski perusahaan Eropa seperti Ericsson dan Nokia masih memegang kontrak utama untuk jaringan inti 5G di Vietnam, Huawei dan ZTE berhasil memenangkan sejumlah kontrak skala kecil dengan operator lokal. Hal ini menunjukkan adanya perubahan perlahan dalam preferensi teknologi di Vietnam.Kesepakatan ini menimbulkan kekhawatiran di Amerika Serikat. Pejabat AS menyatakan bahwa penggunaan teknologi China pada jaringan 5G Vietnam dapat membahayakan kepercayaan dan akses teknologi AS, serta menyebabkan risiko kebocoran data yang sulit dicegah.Para pejabat Barat bahkan membahas opsi untuk memisahkan jaringan yang memakai teknologi China dari bagian jaringan lain demi menjaga keamanan data. Namun, ini menimbulkan tantangan karena pemasok peralatan China masih dapat mengakses data, sementara kontraktor Barat harus berhadapan dengan perusahaan yang kurang dipercaya.Hubungan Vietnam dan China semakin menguat di bidang infrastruktur dan ekonomi, meski Vietnam tetap menjaga sikap formal netral. Posisi ini membuat Vietnam menjadi medan persaingan geopolitik yang krusial antara AS dan China di kawasan Asia Tenggara.