TLDR
Banjir di Aceh telah menyebabkan dampak signifikan bagi ribuan warga. BPBA aktif dalam penanggulangan bencana dan telah menetapkan status darurat di beberapa daerah. Mitigasi sederhana dapat membantu mengurangi risiko bencana bagi masyarakat. Provinsi Aceh sedang menghadapi bencana banjir besar sejak tanggal 18 November hingga 27 November 2025. Curah hujan yang sangat tinggi, ditambah angin kencang dan kondisi tanah yang tidak stabil, menyebabkan banjir serta tanah longsor di banyak wilayah. Banjir ini telah menjangkau 16 kabupaten dan kota di Aceh.Menurut Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), sekitar 33.817 kepala keluarga atau 119.988 jiwa sudah terdampak, dengan 6.998 keluarga mengungsi agar selamat dari banjir. Beberapa desa juga mengalami longsor yang membahayakan kehidupan warga seperti di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Besar.Delapan kabupaten dan kota di Aceh sudah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi, yang berarti pemerintah daerah sudah meningkatkan kesiapsiagaan mereka. Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh, Fadmi Ridwan, menyatakan bahwa penetapan ini dilakukan berdasarkan kondisi terbaru di lapangan untuk mempercepat bantuan dan evakuasi.Menteri Dalam Negeri sudah menginstruksikan bagi para Bupati dan Wali Kota seluruh Aceh agar mereka selalu siap siaga. Pemerintah daerah diminta untuk mengaktifkan posko darurat, melakukan evakuasi, menyiapkan logistik dan layanan kesehatan, serta senantiasa memantau cuaca dan kondisi air sungai untuk mencegah korban lebih banyak.BPBA juga mengimbau warga untuk selalu waspada dan melakukan tindakan mitigasi sederhana seperti membersihkan saluran air dan tidak mendekati lereng saat hujan deras. Informasi resmi dari BMKG dan BPBD sangat penting untuk dipantau agar masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan kondisi banjir dan longsor yang terjadi.