
Courtesy of Forbes
Jangan Biarkan AI Membuat Otak Kita Lelah: Cara Tetap Tajam di Era Gen AI
Memberikan pemahaman tentang bagaimana Gen AI mempengaruhi kemampuan kognitif manusia dan pentingnya menjaga aktivitas mental agar tidak terjadi penurunan fungsi otak, serta mendorong pembaca untuk tetap aktif berpikir dan tidak sepenuhnya bergantung pada AI.
26 Nov 2025, 19.00 WIB
54 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Kecerdasan buatan dapat menjadi alat yang bermanfaat, tetapi kita harus tetap aktif dalam berpikir.
- Atrophy kognitif adalah risiko nyata bagi generasi muda yang terlalu bergantung pada teknologi.
- Inovasi dan kreativitas adalah aspek manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Di zaman sekarang, teknologi kecerdasan buatan generatif (Gen AI) semakin popular dan menimbulkan dua pandangan yang sangat berbeda: ada yang sangat senang dengan kemampuannya, dan ada yang takut akan dampaknya. Diskusi sosial sering berputar antara pandangan negatif seperti robot yang menguasai dunia dan pandangan positif tentang kemudahan hidup yang ditawarkannya.
Namun, ada masalah tersembunyi yang harus kita sadari, yaitu bagaimana manusia kini cenderung mencari cara cepat dan praktis untuk menyelesaikan tugas, yang bisa mengurangi latihan otak. Budaya 'cukup baik' membuat kita kurang peduli pada detail dan menuntut kecepatan, sehingga otak jarang dipaksa untuk berpikir keras.
Selain itu, Gen AI bisa menggantikan proses berpikir kita, membuat otak menjadi malas beraktivitas secara maksimal. Penelitian menunjukkan penggunaan AI yang berlebihan, khususnya pada anak muda, dapat menyebabkan penurunan perkembangan kognitif karena mereka mengandalkan mesin untuk menyelesaikan tugas mental.
Untuk menghindari hal tersebut, kita perlu sadar dan mengambil langkah agar otak tetap aktif, seperti menghindari penggunaan AI untuk hal yang terlalu sederhana, dan melibatkan diri dalam proyek yang menantang dan membutuhkan pemikiran mendalam. Latihan mental penting agar otak kita tidak kehilangan kepekaan dan kekuatan dalam berinovasi.
Akhirnya, meskipun Gen AI adalah alat yang hebat, kita harus ingat bahwa mesin hanya mengolah data dari masa lalu, sedangkan manusia berpotensi menciptakan ide dan inovasi baru. Kita harus menjaga keseimbangan agar kecerdasan kita tidak tergantikan oleh kecerdasan buatan, melainkan didukung dan ditingkatkan olehnya.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/councils/forbestechcouncil/2025/11/26/ai-obsessed-or-ai-afraid/
[1] https://www.forbes.com/councils/forbestechcouncil/2025/11/26/ai-obsessed-or-ai-afraid/
Analisis Ahli
Sherry Turkle
"Menurut Turkle, interaksi manusia dengan teknologi harus memperkuat refleksi dan pemikiran kritis, bukan menggantikannya, untuk mencegah penurunan kualitas komunikasi dan kognisi."
Nicholas Carr
"Carr berpendapat bahwa terlalu mengandalkan teknologi dapat menyebabkan hilangnya kemampuan fokus dan mendalam, yang penting untuk pembelajaran dan kreativitas manusia."
Analisis Kami
"Ketergantungan berlebihan pada Gen AI berpotensi melemahkan kemampuan otak manusia yang sudah sangat penting untuk inovasi dan pemecahan masalah kompleks. Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan antara memanfaatkan AI dan terus mengasah kemampuan kognitif agar tetap relevan di masa depan."
Prediksi Kami
Jika penggunaan Gen AI terus meningkat tanpa disertai kebiasaan melatih otak sendiri, generasi mendatang mungkin mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sehingga ketergantungan pada mesin akan semakin besar.





