Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Waspada! Modus Penipuan Siber Memanfaatkan WhatsApp dan Email Palsu

Teknologi
Keamanan Siber
cyber-security (4mo ago) cyber-security (4mo ago)
20 Nov 2025
126 dibaca
2 menit
Waspada! Modus Penipuan Siber Memanfaatkan WhatsApp dan Email Palsu

Rangkuman 15 Detik

Pentingnya waspada terhadap penipuan yang menggunakan teknik rekayasa sosial.
Perusahaan harus meningkatkan kesadaran karyawan tentang ancaman kejahatan siber.
Keamanan data harus menjadi prioritas untuk melindungi informasi sensitif dari serangan.
Kejahatan siber semakin marak dengan pelaku yang menggunakan aplikasi populer seperti WhatsApp dan Gmail untuk menjebak korban. Mereka sering kali mengirim pesan atau email palsu yang terlihat seperti berasal dari sumber resmi, seperti dukungan teknis atau manajer perusahaan. Hal ini menyebabkan banyak pegawai perusahaan menjadi sasaran penipuan. Salah satu modus yang sering digunakan adalah mengaku dari dukungan teknis dan menelepon karyawan perusahaan pada akhir pekan. Mereka mengaku menemukan aktivitas aneh di komputer kerja dan meminta karyawan mengirimkan kredensial login agar bisa ‘memperbaiki’ masalah dari jarak jauh. Modus ini makin berkembang ketika pandemi COVID-19 membuat banyak orang bekerja dari rumah. Ada juga penipuan yang menyamar sebagai CEO atau manajer penting dengan tujuan mengirimkan lampiran berbahaya atau permintaan mendesak untuk menarik perhatian dan mengelabui korban agar mengirimkan uang atau data sensitif. Mereka menggunakan teknik rekayasa sosial agar korban percaya dan melakukan apa yang mereka minta. Selain itu, penyerang juga bisa membajak percakapan bisnis dengan menggunakan domain yang mirip dan email yang dicuri dari web gelap. Ini membuat serangan terasa sangat meyakinkan dan memudahkan mereka untuk meminta data bank atau uang dari korban. Terkadang, mereka juga mengirim permintaan data palsu dengan menyamar sebagai lembaga penegak hukum yang resmi. Untuk menghadapi ancaman ini, penting bagi perusahaan dan individu untuk selalu waspada, mengenali ciri-ciri penipuan, serta memperkuat sistem keamanan siber. Edukasi tentang modus penipuan terbaru dan penggunaan teknologi keamanan dapat membantu melindungi diri dari serangan yang berpotensi merugikan.

Analisis Ahli

Bruce Schneier
Serangan berbasis rekayasa sosial ini menekankan bahwa keamanan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kesadaran manusia yang harus terus ditingkatkan.
Mikko Hypponen
Pelaku kejahatan siber terus mencari celah dengan memanfaatkan kepercayaan dan ketidaktahuan korban, sehingga tiap individu dan organisasi harus lebih proaktif terhadap ancaman ini.