Populasi Orang Utan Tapanuli Terus Menyusut, Konservasi Mendesak
Sains
Iklim dan Lingkungan
16 Nov 2025
117 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Orangutan Tapanuli adalah spesies yang sangat terancam punah dengan habitat yang menyusut drastis.
Deforestasi dan proyek pembangunan di Batang Toru merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup orangutan Tapanuli.
Upaya konservasi yang lebih agresif dan efektif diperlukan untuk melindungi orangutan Tapanuli dan habitatnya.
Orang utan Tapanuli adalah spesies primata besar yang hanya ditemukan di Sumatera Utara, khususnya di kawasan Batang Toru. Saat ini, populasinya hanya tersisa sekitar 800 ekor, menunjukkan penurunan drastis yang sangat memprihatinkan bagi kelangsungan hidup mereka.
Habitat orang utan ini semakin menyusut karena alih fungsi lahan menjadi perkebunan dan industri. Antara tahun 1985 dan 2007, luas hutan yang menjadi tempat tinggal mereka berkurang hingga 60 persen, mengurangi area yang dapat mereka gunakan untuk bertahan hidup.
Selain hilangnya habitat, orang utan Tapanuli menghadapi ancaman lain seperti deforestasi ilegal, perburuan, dan perdagangan bayi orang utan. Proyek pembangunan seperti bendungan dan pertambangan emas juga memperparah tekanan terhadap habitat mereka.
Meskipun sudah ditetapkan sebagai spesies terpisah pada tahun 2017 dan statusnya sangat terancam ('Critically Endangered'), upaya konservasi yang dilakukan belum cukup efektif. Hal ini disayangkan karena diharapkan setelah pengakuan tersebut perhatian global akan meningkat.
Baru-baru ini, ditemukan indikasi orang utan Tapanuli hidup di kawasan hutan rawa yang jaraknya sekitar 32 kilometer dari Batang Toru, menunjukkan bahwa mereka mungkin bisa beradaptasi di tempat lain, tetapi ancaman tetap harus diatasi agar populasi tidak terus menurun.
Analisis Ahli
Amanda Hurowitz
Sejak pengumuman orang utan Tapanuli sebagai spesies baru, ancaman yang dihadapi tidak banyak berubah, menunjukkan kurangnya perhatian global yang dibutuhkan untuk pelestarian mereka.

